Please
Comeback To Me,.!!!
Title :
Please Comeback To Me,.!!!
Author : Chenn٭٭٭
Cast : Kim Sa Rang (OC), Kim Jong Dae, Zhang
Yixing
Support
Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun,dll.
Genre : Romantic, Friendship, Family
All
cast in this story are my imagination, I hope you’ll be happy read my first
story...
Jangan
terlalu serius bacanya, buat hiburan aja oke!!! Bukan untuk ditiru!!
ˆ-ˆ *Have Fun* ˆ-ˆ
“First Sight”
“Annyeonghasseyo, namaku Kim Sa
Rang...” Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga Kim Jong Dae pria 179
cm berwajah clown, dan bermata bawang yang selalu tersimpul senyum walau tidak
sedang tertawa bak ukiran Tuhan yang mendekati sempurna, kulitnya yang putih
mulus, tubuh yang ideal dan bla bla bla... yang masih banyak hal tentang Kim
Jong Dae yang terkenal sebagai Mr. Sparkling karena saking berkilaunya. Tidak
seperti biasanya, Jong Dae terlihat cengar cengir tanpa sebab semenjak jam
pelajaran usai, tak hayal hal tersebut membuat 2 temannya (Park Chanyeol dan Oh Sehun) bingung karena sudah 20 menit
Jong Dae tak beralih dari tempatnya, hingga akhirnya jam istirahat usai
membuyarkan lamunannya dan kini disadari Jong Dae bahwa Sehun dan Chanyeol telah meninggalkannya.
“Annyeong...” suara lembut Kim Sa
yang mengulurkan tangannya ke Jong Dae.
“Ne, aku Jong Dae senang bisa sebangku denganmu Sa
Rang-ssi” sapa Jong Dae ramah, karena memang sejak kedatangan Kim Sa mereka
belum sempat berkenalan. Jong Dae memang terkenal akan keramahan dan sifat
keibuannya. kekeke-
“Mian?”
“Ah... kau pasti masih bingung
dengan sekolah ini, karena sepertinya kau belum mempunyai teman dan sedari
istirahat tadi kau hanya duduk di kelas. Memang, tidak hanya ruang kelasnya
yang banyak, laboratorium yang lengkap, kantin yang menyediakan banyak menu,
bahkan konsep taman disini, em... aku akan senang hati menjadi pemandu untukmu
jika kau kesulitan menghafal seluruh bagian dari Giyonggi High School...”
pemaparan panjang lebar kali tinggi ala Jong Dae ternyata tidak di gubris oleh
Kim Sa yang mengalihkan pandangannya ke jendela di sebelah kirinya dan seperti
melamun.
“Sa Rang-ssi..” panggil Jong Dae
dengan sedikit menepuk pundak Kim Sa.
“Ah... Ne Jong Dae.. kau bilang apa
tadi?”
“emm, bukan apa-apa, sepertinya kau
tidak menyadari kedatangan Ryu Songsaenim..”
“Oh, mian...”
***
“Sa Rang-ssi, bolehkah aku
mengantarmu, kebetulan aku membawa sepeda. Apa kau akan dijemput?”
“A-ani..”
“Kalau begitu naiklah!” perintah
Jong Dae yang sudah stand by di sepedanya.
“A-ani, kau tak perlu mengantarku
Jong Dae”
“Hmm kau tak perlu malu atau
khawatir Sa Rang-ssi, aku bukan lelaki nakal, yakinlah! Arasso?”
“Ah,, ne” jawab Kim Sa malu karena
fikirannya yang berhasil dibaca oleh Jong Dae. (apakah dia seorang psyco?)
“Aku orang biasa Sa Rang-ssi, jangan
berfikiran macam-macam dan fokuskan pandanganmu kedepan, atau kau akan
terpesona denganku!” ucap Jong Dae ringan.
“Wah,, kau ternyata lebih ringan
dari yang kubayangkan Sa Rang-ssi” lanjut Jong Dae berbisik lirih ketelinga Kim
Sa yang berada didepannya karena memang sepeda Jong Dae adalah sepeda gunung
jadi mustahil untuk memboncengnya dibelakang.
“Ne?”
Jong Dae hanya tersenyum mendengar
setiap kata yang dikeluarkan oleh Kim Sa. Tak tahu semenjak beberapa jam lalu,
Jong Dae yang ramah namun sedikit bicara, berubah menjadi Ms Jong Dae dari sisi
keibuan yang lebih menonjolkan sikap cerewet daripada perhatian didepan Kim Sa
yang baru dikenalnya belum genap 24 jam.
“Kau pasti masih kesepian Sa
Rang-ssi, aku akan menemanimu disekolah jika kau mau. Dan akan membantumu
menghafal setiap sudut sekolah. Bukankah sulit untuk menghafal sekolah yang
luas itu?”
“A-ani”
“hmm, memangnya dulu kau sekolah
dimana?”
“Seoul High School”
“ohhh,,, Se.... Seoul High School?
Mwo?” tiba-tiba Jong Dae menghentikan laju sepedanya yang mengakibatkan badan
Kim Sa sedikit tertekan. Buru-buru Jong Dae turun dari sepedanya dan diikuti
oleh Kim Sa yang masih bingung melihat wajah Jong Dae dengan matanya yang
membelalak namun tidak terlihat seperti melotot terkejut.
“Wae? Ada yang salah?”
“Ani... hanya saja dulu aku ingin ke
Seoul High School tapi mereka tidak menerimaku dan itu membuatku membenci
seluruh orang yang berada di sekolah itu, bahkan bersumpah tidak akan berteman
dengan mereka. (tersenyum) tapi... sepertinya aku harus menghapus sumpahku,
karena anehnya aku merasa nyaman saat berada didekatmu Sa Rang-ssi” ujar Jong
Dae yang kini berhadapan dengan Kim Sa ditepi jalan hutan Giyonggi dimana
mereka memberhentikan sepeda yang berjarak 450 meter dari sekolah mereka.
“Dan, mengapa kau memutuskan untuk
pindah kesini Sa Rang-ssi?”
“Kim Sa!” jawab singkat. “Kenapa kau
memanggilku Sa Rang?” lanjut Kim Sa sambil berlalu meninggalkan Jong Dae.
“Hei ya! ya! ya! Kau!” pangilan Jong
Dae tidak dihiraukan Kim Sa, yang kini menjauh dan hanya nampak punggungnya
dari tempat Jong Dae.
“Naiklah!” perintah Jong Dae.
Kim Sa terus melanjutkan langkahnya
tanpa menghiraukan Jong Dae. Langkahnya nampak tegap dan berusaha berjalan
cepat.
“Hey kau! Sa Rang! Eh nona Kim! Kim
Sa..!” teriak Jong Dae. “Dan mengapa kau hanya mengatakan Ne, Ani, Ne, Ani? Tak
adakah kata lain yang bisa kau ucapkan selain Ne, Ani, Yakk! Kim Sa! Kau tak
pernah ikut kelas etika ya?”
“Wae?” jawab Kim Sa ketus.
“Naiklah!” perintah Jong Dae
kesekian kalinya.
“Shireo!”
“Sa Rang!” kali ini Jong Dae
benar-benar marah karena kata-katanya tidak dipedulikan oleh Kim Sa, akhirnya
ia turun dari sepeda dan membiarkan sepedanya terjatuh di tanah. Menghampiri
Kim Sa dan menggiringnya kesebuah pohon besar. Menghimpitnya dengan dua tangan
yang ditempelkan ke pohon mendekatkan wajahnya kewajah Kim Sa. Jaraknyapun
semakin dekat dan tidak lebih dari 15 cm, dipandanginya Kim Sa yang sedikit
berwajah innocent tanpa perduli siapa yang berada didepannya saat ini.
Kini Jong Dae semakin mendekat dan...
“Plakkk!” sebuah tamparan keras
melayang diwajah mulus Jong Dae meninggalkan berkas lima jari berwarna merah
dipipi kirinya.
“Kau kira aku apa Jong Dae? Kau
bahkan belum genap mengenalku 24 jam tapi sungguh kau tak lebih berkilau
layaknya Mr. Sparkling seperti yang teman-teman katakan. Kau bahkan lebih buruk
dari pada lalat. Cukup Jong Dae, kau bilang aku tak pernah ikut kelas etika?
Cihh bahkan kau sendiri yang tak tau malu! Dan lagi sepedamu itu membuat
pantatku tak bisa bernafas. Lain kali fikirkan resiko penumpang ketika kau akan
mengajaknya! Mr. Strange!”
Angin musim gugur saat ini memang kencang
dan menggugurkan banyak dedaunan. Kering, seperti harga diri Jong Dae,
bagaimana mungkin Mr. Sparkling ditolak oleh seorang wanita yang sebelumnya
ialah yang berada diposisi sebagai penolak cinta-cinta yang datang. Tak seperti
adegan drama Korea yang dia harapkan, kali ini Kim Sa benar-benar mendapatkan
Jack Pot besar dengan melayangkan tamparan itu.
Ditinggalkan oleh Kim Sa dengan
berkas tamparan dipipinya menjadikan Jong Dae frozen ia bahkan tak bisa
membalas bahkan tak bisa berkutik. Didalam hatinya ia juga merasa bersalah dan
bertanya pada diri sendiri apa yang dilakukannya sehingga membuat Kim Sa
terlihat marah. Tersadar karena dikatakan sebagai Mr. Strange Jong Dae
berteriak pada Kim Sa yang berlari dan hanya terlihat punggungnya.
“Hey, kau!! Apa katamu? Strange?
Darimana aku terlihat aneh dimatamu? Hey-ya!”!
Aissh, pandangan pertama bukanlah
yang terbaik batin Jong Dae.
***
“Is It Love?”
(Previous---)
“Naiklah!” perintah Jong Dae kesekian kalinya.
“Shireo!”
“Sa Rang!” kali ini Jong Dae benar-benar
marah karena kata-katanya tidak dipedulikan oleh Kim Sa, akhirnya ia turun dari
sepeda dan membiarkan sepedanya terjatuh di tanah. Menghampiri Kim Sa dan
menggiringnya kesebuah pohon besar. Menghimpitnya dengan dua tangan yang
ditempelkan ke pohon mendekatkan wajahnya kewajah Kim Sa. Dan...
“Plakkk!” sebuah tamparan keras
melayang diwajah mulus Jong Dae meninggalkan berkas lima jari berwarna merah
dipipi kirinya.
“Kau kira aku apa Jong Dae? Kau
bahkan belum genap mengenalku 24 jam tapi sungguh kau tak lebih berkilau
layaknya Mr. Sparkling seperti yang teman-teman katakan. Kau bahkan lebih buruk
dari pada lalat. Cukup Jong Dae, kau bilang aku tak pernah ikut kelas etika?
Cihh bahkan kau sendiri yang tak tau malu! Dan lagi sepedamu itu membuat pantatku
tak bisa bernafas. Lain kali fikirkan resiko penumpang ketika kau akan
mengajaknya! Mr. Strange”
(End
Previous)
---1 minggu kemudian---
Pelajaran
baru saja berlalu, Kim Sa menuju perpustakaan dengan langkah gontai
misteriusnya. Ya misterius menurut Jong Dae, karena ia tak seperti kebanyakan
orang yang senang berkumpul, Kim Sa selalu sendiri selama seminggu ini, tanpa
meminta maaf atas tamparannya seminggu lalu dihutan, tanpa menyapa atau sekedar
tersenyum.
“Yakk
anak itu benar-benar membuatku kesal.” gumam
Jong Dae dalam hati.
(Diruang
musik)
“Hey
Jong Dae! Tak bisakah kau fokus pada lagumu, kami kebingungan untuk menyamakan
irama dengan nada suaramu.” Keluhan keluar dari Chanyeol Drummer Dreamer band.
Dreamer
band terdiri dari tiga member. Jong Dae vokalis yang bersuara tinggi nan lembut,
Chanyeol Drummer yang playboy, cukup tampan dan kekanak-kanakan serta Oh Sehun gitaris berkarisma yang stylish, cool
dan paling dewasa di grup. Begitu sempurna menurut semua orang. Band ini pun
disebut-sebut Three Star dan membuat semua orang menjerit disetiap menyaksikan
perfoma ketiganya.
“Jong
Dae! Kau tak bisa terus-terusan seperti ini, apakah karena keluargamu? Wanita? Ah..
jinjja, bahkan kau tak bisa mengutarakan alasanmu Ha! Waktu kita tinggal enam
minggu lagi untuk music wave kau tau!”
“Arasso
arasso... mian” ucap Jong Dae.
“Gwenchana?”
tanya Sehun. “Kajja kita istirahat sejenak”. Lanjutnya. “Apa karena murid
pindahan?”
“M-mwo?
Murid pindahan? A-ani... kenapa dengan dia? dia tak menarik, kasar, jarang
bergaul, aneh. Ah yang benar saja”
“Lalu...
kenapa kau berubah gagap? Seperti tekejut?” selidik Chanyeol .
“Aiisshhh...
kau mau jadi ibuku? Cerewet sekali!”
“Huh!
Tingkahmu semakin menunjukkan bahwa clue dari Sehun memang benar Jong
Dae-ah. Jadi, tipemu yang seperti itu.. Aah, tak menarik, kasar, jarang
bergaul, aneh. Tunggu! bukankah dia kebalikan darimu sparkling, ramah, senang
bergaul...”
“Tapi,
sama anehnya!” potong Sehun dengan menunjukkan senyum smirknya.
“Heyy!!..”
Jong Dae mengelak, lalu melanjutkan“Tapi... Sehun, bagaimana caramu memikat
wanita?”
“JADI
KAU BENAR MENYUKAINYA?” teriak Chanyeol dan Sehun serentak, layaknya mengucapkan
slogan demo.
“Daebak!!!
Seleramu benar-benar buruk. Bahkan setelah kau menolak si kembar Han Soo Sang
dan Han Soo Min yang menjadi idaman pria ideal dan sulit untuk membedakan wajahnya
hanya karena menurutmu Soo Sang dan Soo Min adalah saudara kembar, tapi sekarang
kau!! Aigoo... Wae? Wae? Wae? Bahkan
menurutku ia tak begitu menarik” Introgasi dari Chanyeol .
“Molla...”
sahut Jong Dae singkat dengan mengangkat bahunya. “Sehun, kau belum
menjawabku!”
“Nado
molla... mungkin aku sudah memikat kaum hawa sejak lahir. Sehingga Im Hanna
tergila-gila dengan pesonaku.”
“Im
Hanna? Model sekolah ini? Pacarmu? Yakk! Kau bahkan tak meminta izinku ha? Aku
telah menunggunya sejak awal semester. Badannya, wajahnya, oh! Bibirnya Im
Hanna.”
“Kau
berlebihan!” ucap Sehun
“Yakk!
Kau tak akan mencium gadisku kan!” protes Chanyeol .
“Ani...
dia yang menciumku, bahkan menikmatinya. Im Hanna pasti sudah tidak tahan
dengan wajah pangeranku ini, aah aku hanya memanfaatkan kesempatan.” Celetus Sehun
ringan dengan menempelkan jari jempol ke bibir bawahnya.
“Hey!!
K- kapan kau mulai berpacaran dengannya?”
“Molla!
Aku belum memikirkannya, mungkin seminggu lagi, atau tiga hari lagi. Emm ani...
mungkin setelah ini aku akan menembaknya dengan senapan terbaikku”
“Aiisshh
jadi kau belum pacaran dengannya? Kau! Benar-benar Dreamer prince!!” Chanyeol sudah tak tahan menahan emosinya kali ini.
“Lagi
pula apakah kurang untukmu Chanyeol ? Shin Hye Sun, Lee Bomi, dan Cheon
Natalie” Jong Dae nampak memihak Sehun.
“Mwo?
Apa kalian memojokkanku? Mereka tak lebih menarik dari Im Hanna”
Perdebatan
merekapun berakhir dengan tawa, akhirnya mereka membuyarkan majelis rumpi ala
band. Tak terasa waktu dengan cepat berganti, hingga matahari hendak
bersembunyi saat itu, berganti dengan langit merah jingga di langit Giyonggi.
Kini malam
menyambut dengan semburat bulan sabit bersama taburan bintang-bintang. Hari
yang melelahkan untuk sekedar membicarakan wanita. Mereka bertiga akhirnya
berpisah setelah melewati hutan Giyonggi karena memang rumah mereka tidak
berada pada komplek yang sama.
“Sa
Rang, ya... Sarang. Cinta.” Batin Jong dae dengan tersenyum menatap langit gelap
nan gemerlap.
***
Seperti hari-hari yang telah
berlalu sebelumnya. Setiap hari bertemu, tapi Kim Sa tak pernah menyapa, tersenyum,
bahkan melirik kearah Jong Dae. Hari-harinya dihabiskan diperpustakaan, tempat
yang dibenci Jong Dae, sepi, banyak buku, tak dapat bergerak bebas. Namun,
siapa sangka tempat yang cukup luas, namun juga penuh dengan buku, sepi dan
sedikit pengap disamping studio musik lantai 2 Giyonggi High School menjadi
tempat paling favorit bagi Kim Sa, wanita yang dianggap cukup aneh karena tak
memiliki cukup teman, kurus, ralat! tipis lebih tepatnya, rambut biasa bahkan
lebih dibawah dari standar biasa dengan hanya diurai sesiku, dan jangan lupa,
tanpa make up!.
Kim
Sa merenung ditempat baca, bagian paling utara dari perpustakaan tepatnya
didepan barisan buku-buku psikologi. Bukan untuk membaca buku, setiap hari Kim
Sa hanya tidur dengan posisi yang sama yaitu menelangkupkan kedua tangan pada
meja dan menghadap kearah jendela disebelah kanannya, tempat yang strategis
untuk melihat taman halaman depan sekolahnya yang unik berbentuk seperti
kelopak mata. Sudah sepuluh hari setelah perpindahannya, namun menurutnya tidak
ada yang berubah, hatinya masih labil, terkadang tersenyum tapi 89 persennya
adalah benci. Ramah kemudian kembali arogan. Kini perpustakaan adalah tempat
yang ia senangi karena tenang tanpa ada yang mengganggunya, tempatnya duduk
dipojok ruangan yang hanya mendapat sedikit sinar matahari membuatnya merasa
bebas karena seperti tidak sedang diperhatikan.
***
Arloji
pada tangan Kim Sa menunjukkan pukul 07.45 KST ia sudah telat 15 menit, siapa
yang akan menyangka kalau ia akan bangun kesiangan? Dan benar saja, didepan
tangga menuju sekolahnya telah bersiap Han songsaenim guru ketertiban sedang
bersedia menanti kedatangan murid yang terlambat dimana sebelumnya ia telah
berhasil mendapati Sehun dan Chanyeol yang juga terlambat, bersamaan dengan Zhang
Yixing murid China yang dikenal berandal geng disekolah tersebut dengan 3 teman
geng lainnya Huang Zitao, Baekhyun, dan Kyungsoo.
Han songsaenim berkacak pinggang mendapati satu siswa lagi dengan santainya
berjalan tanpa mempedulikannya.
“Hey!!
Siapa yang membiarkanmu lolos seperti itu. Kau jumping jap 50 kali.” Perintah Han songsaenim pada Kim Sa. Tega
memang jika untuk seorang wanita melakukan jumping jap 50 kali, tapi
itulah Han songsaenim, keras dan disiplin. Menurutnya inilah hal yang benar,
dengan begitu siswa akan menjadi jera dan tak akan mengulangi perbuatannya
lagi. Pantas saja jika gelarnya saat ini adalah Killer Han.
Sebelumnya
5 anak yang datang sebelum Kim Sa terlibat dalam perkelahian entah mengapa
alasan mereka berkelahi sama sekali tak diketahui, mungkin inilah jiwa anak
muda yang selalu ingin menang sendiri, mereka saling adu pukulan dan kekuatan.
Dalam hal semacam ini Jong Dae jarang terlibat karena berpengaruh pada
jabatannya sebagai ketua kelas. Bukankah ia harus memberi
contoh yang baik? Begitu menurutnya.
Selesai
sudah 50 jumping jap yang ditugaskan kepada Kim Sa, begitu pula dengan 5
anak sebelum Kim Sa yang mendapat hukuman untuk push up yang berjumlah
sama dengan Kim Sa. Dengan nafas yang masih kembang kempis didadanya tiba-tiba
terdapat uluran tangan seorang namja yang membawa air mineral dengan tersenyum.
“Minumlah”
***
(Di kelas)
Pagi
itu tak secerah biasanya, sama seperti wajah Kim Sa. Bukan! Tepatnya Sa Rang
sarang dalam arti cinta menurut Jong Dae. Wajahnya pucat pasi, hanya nyawa yang
membedakannya dengan mayat dan semakin lama ia lebih mirip dengan Bella, sang
vampir di film Twilight.
“Gwencana?
Kau pucat Sa Rang-ssi”
Kim
Sa tak menjawab, hanya mengangguk menandakan ia baik-baik saja. Tapi hal
tersebut justru membuat Jong Dae khawatir karena walaupun tanpa make up
Kim Sa tak sepucat saat ini. Hingga setengah jam pelajaran Jong Dae tak dapat
memfokuskan fikiran dan pandangannya pada pelajaran sastra Gook Songsaenim, dua
menit memperhatikan kemudian menengok pada Kim Sa begitu seterusnya.
“Kau
yakin tak apa?” tanya Jong Dae sekali lagi.
“Ne”
kali ini Kim Sa menjawab namun dengan lemas.
Keadaan
ini membuat Jong Dae semakin khawatir, walau sebelumnya Sa Rang pernah
menamparnya namun tetap saja cinta sulit untuk diartikan begitu fikirnya.
Setidaknya Sa Rang pernah tersenyum padanya. Ketika ia mengingat-ingat kapan
terakhir kali Sa Rang tersenyum? Jong Dae rasa tak pernah, tapi ia menyukai
wanita ketika tersenyum jadi tentu ia pernah melihat Sa Rang tersenyum. Setelah
memutar otak 360 derajat ia mengingat 2 kali Sa Rang tersenyum. Pertama, saat
perkenalan didepan kelas dan terakhir saat berkenalan sebagai teman sebangku
Jong Dae. Setelah berhasil memecahkan permasalahan terakhir kali Sa Rang
tersenyum, Jong Dae melirik Sa Rang sembari tersenyum yang kemudian ekspresinya
berubah
“Sa
Rang-ssi kau berkeringat dan.. dan hidungmu...”
***
“Who Are You?”
“Kau
sudah sadar?” sambutan pertama yang didapati Kim Sa dari seorang namja yang suaranya
terdengar asing baginya. Bagaimana tidak asing? Selama ini ia hanya
menghabiskan waktu di perpustakaan dan satu-satunya namja yang ia kenal
hanyalah Jong Dae, ya setidaknya ia masih menganggap Jong Dae namja walaupun
lebih sering disebut Eomma. Perlahan Kim Sa membuka matanya yang masih terasa
berat. Didapatinya siluet namja tinggi yang sedikit membungkuk kearahnya. Tak
lama kemudian siluet tersebut memudar, kini yang terlihat diretina Kim Sa
adalah namja berkulit putih bersih, berambut hitam pekat, wajahnya bak malaikat
memiliki hidung mancung, bibir kemerahan dan senyum yang manis, ya amat sangat manis.
DEG...
Jantung
Kim Sa nampaknya berhenti berdetak saat itu.
Namja
ini tampan, fikirnya. Tanpa menjawab dan bahkan tanpa mengedipkan mata yang masih
terkagum dengan sosok didepannya, hanya mengangguk sekali. Sosok itu adalah
pangeran yang membangunkan snow white dari tidurnya menurut Kim Sa.
Tunggu, jadi Kim Sa menganggap dirinya snow white? Yang benar saja! Dengan
tubuh dan wajah seperti ini ia menganggap dirinya sebagai snow white? Ya
ampun kau hanyalah bebek got yang bermimpi menjadi bangau Kim Sa!
Tapi
tunggu wajah ini sepertinya tak asing bagi Kim Sa, ya.. dengan jelas ia
mengingat wajah ini pernah ia temui, tapi dimana? Kim Sa mencoba berfikir keras
namun nihil, kepalanya seperti kembali diputar dan seketika semua objek yang ia
lihat nampak berputar putar pula.
“Tadi
kau pingsan, aku melihat Jong Dae membawamu kemari.” Kalimat tersebut
menghilangkan keheningan sejenak dan membuyarkan lamunan Kim Sa.
“Kau...
teman Jong Dae?”
“Aisshh!
Kemana saja kau? Apa kau tak pernah melihatku?”
“Nuguseyo?”
“Arrgghh... benar-benar anak ini.
Sudah lupakan, ini minumlah dan cepat sembuh.” Ucap namja dengan sedikit
membentak dan menyodorkan sebotol air mineral.
Kim
Sa hanya melongo ditinggal namja yang cukup tampan menurutnya dan kini tampak hanya
bayangannya yang menjauh.
“Mineral...
dia yang memberiku mineral tadi pagi.” Kim Sa lantas mengingat namja tersebut
ketika bayangannya sudah tak nampak.
Dengan
gontai Kim Sa mencoba mengepung namja tersebut, ternyata namja tersebut menuju
kantin didekat loker penyimpanan barang, Kim Sa melewati kelasnya yang pada
saat itu tanpa sengaja Jong Dae melihatnya kemudian mencoba mengikuti Kim Sa
hingga di kantin.
“Kau!”
ucap Kim Sa mengarah pada namja yang tadinya memberi Kim Sa air mineral dengan
menunjuk namja tersebut menggunakan tangan kanannya. Menyadari kehadiran Kim Sa
namja tersebut mendongakkan kepalanya. Pandangannya mengarah pada sosok
dibelakang Kim Sa, Jong Dae. Namja tersebut mengeluarkan smirknya, Good
Timing batin namja tersebut. Tanpa basa basi dengan mengembangkan senyumnya
ia mendekati Kim Sa dan melupakan menu makanan siang itu, namja tersebut
mendekati Kim Sa seraya memegang pergelangannya. Menyeretnya hingga ke loker
siswa disebelah barat kantin.
“Wae?”
tanya namja tersebut.
“Nuguseyo?”
tanya Kim Sa
“Nega..
Zhang Yixing imnida” ucap namja yang dikenal sebagai mineral menurut Kim Sa.
Namja
tersebut mengamati detil wajah Kim Sa yang cukup lumayan jika dilihat dari
dekat, ya walau badannya tak mendukung tapi Kim Sa memiliki mata yang bulat dan
bibir seksi. Mungkin ini yang membuat namja dengan marga Zhang tersebut
mendekatkan tubuhnya pada Kim Sa. Tak lama kemudian dari arah belakang
terdengar hentakan kaki, dan namja tersebut tidak salah dalam menduga, ini
adalah Jong Dae batinnya, ia semakin bersemangat untuk memanfaatkan momen
ini. Kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan Kim Sa dan mengunci tubuh Kim Sa
menggunakan dua tangannya. Bertepatan dengan suara hentakan kaki yang berhenti
saat itu pula Zhang Yixing mencium bibir Kim Sa. Kim Sa tak berdaya untuk
melawan Zhang Yixing yang karena masih terlalu lemas untuk membalasnya. Zhang
Yixing kembali mendengarkan hentakan kaki, ia semakin memperdalam ciumannya.
Aneh
bagi Kim Sa, baru kali ini ia merasakan ciuman. Ia tak bisa membalas, hanya
diam. Terlebih namja yang menciumnya adalah namja yang sangat membuatnya
penasaran dan membuat jantungnya tak berhenti berdetak. Ciuman tersebut
berlangsung 20 detik tanpa balasan darinya. Lembut dan manis menurut Kim Sa, jadi ia membiarkannya
tanpa membalas.
***
Kim
Jong Dae melihat Kim Sa berlari didepan koridor kelas 2-3. Penasaran dengan apa
yang dikejar oleh Kim Sa, Jong Dae mengikuti secara perlahan. Didepan kantin ia
semakin terkejut melihat sosok yang menyeret Kim Sa adalah bukan orang yang
asing baginya. Zhang Yixing, anggota geng yang tergabung dengan Wolf band
pesaing Dreamer band. Ia semakin penasaran dengan apa yang dilakukan Kim Sa
bersama rivalnya, dengan berhati-hati Jong Dae mengikuti mereka hingga ke
tempat loker siswa. Sesampainya disana Jong Dae membeku melihat hal yang
terjadi didepannya, gadis yang ia cintai sejak pertama bertemu terlihat
menikmati ciuman yang diberikan rivalnya tersebut. Merasa tak berdaya ia
meninggalkan tempat tersebut dengan lunglai.
Mengetahui
hentakan kaki yang ia rasakan mulai menjauh Zhang Yixing menghentikan ciuman
panasnya. Dipandanginya Kim Sa yang pucat dan tak lama kemudian gadis tersebut
pingsan dipelukannya. Sadar akan hal tersebut Zhang Yixing membawa Kim Sa ke
ruang kesehatan.
***
Tak
terasa 4 jam sudah Kim Sa berada diruang kesehatan, sehingga berakhirlah
pelajaran hari itu. Arloji dipergelangan tangan kiri Kim Sa menunjukkan pukul
15.00 KST, ia berniat meninggalkan ruang itu secepatnya. Namun apa daya,
tubuhnya yang ringkih tidak mengizinkannya untuk berpindah dari keranjang
berbau khas desinfektan ruang kesehatan. Benar-benar mengganggu bagi Kim Sa.
Akhirnya ia berinisiatif untuk menelfon temannya untuk menjemput, namun sial ia
lupa akan satu hal bahwa dirinya adalah murid pindahan yang hingga 2 minggu
setelah perpindahannya belum mengenal banyak teman bahkan wanita sekalipun. Ia
terus menggeser layar smartphonenya
sambil mencari nama kontak berharap ada keajaiban dalam smartphonenya
itu. Lima menit, delapan menit, hingga sepuluh menit menggeser keatas kebawah
tetap saja hasilnya nihil. Mungkin kali ini ia akan menganggap keajaiban tidak
pernah ada dan hanya ada dalam dongeng. Kim Sa mulai putus harapan dan
tertunduk. Tapi... dimana petugas kesehatan? Fikirnya. Kim Sa akhirnya
mendapat ide untuk memanggil petugas kesehatan, memang sedari tadi ia tidak
mengucapkan sepatah katapun.
“Ah.. kau sudah bangun?”
“Ne,
tapi badanku terasa berat dan sedikit pusing.”
“Apa
perlu untuk kupanggilkan keluargamu?”
“Tidak
tidak, emm bisakah kau panggilkan Jong Dae agar membawakan tasku?”
Perawat
yang bertugas saat itu langsung menuju ruang 2-3 untuk memanggil Jong Dae. Karena
memang kelas tersebut hanya menyisakan Jong Dae yang setiap hari pulang paling
akhir iapun beranjak keluar kelas dan menuju ruang kesehatan. Sesampainya
disana Jong Dae melepaskan senyuman ke arah Kim Sa walau tak dibalas dengan hal
yang sama oleh Kim Sa. Wajah mendung yang ia temukan 6 jam lalu telah sirna,
namun tetap nampak seperti wajah lesu dan pucat. Kim Sa mencoba berdiri untuk
meninggalkan ruang kesehatan dengan Jong Dae yang menopang sebelah tangan kanan
Kim Sa. Namun belum selangkah ia melangkahkan kakinya, Kim Sa secara tiba-tiba
terhuyun dan terjatuh kekiri. Untungnya Jong Dae masih kuat untuk sekedar
menahan beban Kim Sa.
“Gwenchana?”
Kim
Sa hanya mengangguk ragu. Jong Dae yang hanya sendirian menempatkan Kim Sa ke
ranjang kembali. Jong Dae memposisikan berdirinya didepan Kim Sa.
“Naiklah,
akan sangat menyusahkan kalau kau harus tinggal disini semalaman. Aku akan
mengantarmu pulang.”
“Gendong?
Shireo! Apa kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Punggungmu pasti akan
gatal jika kau menggendongku!” bentak Kim Sa.
“Aiisshh,
bahkan dalam kondisi seperti ini kau masih bisa jual mahal dan membentakku?
Dan.. gatal bagaimana maksudmu? Aku bukan namja sembarangan kau tahu!” balas
Jong Dae. “Mana nomor keluargamu? Aku akan menghubungi mereka untuk menjemputmu
jika kau tak mau aku yang mengantarmu!”
“Aniiiii,,
jebal, jangan hubungi mereka. Arasso aku menurutimu.”
Kim
Sa akhirnya menurut untuk naik di puggung Kim Jong Dae. Melewati hutan Giyonggi
yang merupakan tempat paling bersejarah dimana Jong Dae untuk pertama kalinya
ditampar. Cukup ringan memang tubuh Kim Sa, sehingga Jong Dae tak merasa begitu
kelelahan saat menggendongnya. 350 meter Jong Dae berjalan. Sesekali ia
mengajak Kim Sa berbicara. Ralat! Berbicara sendiri atau lebih tepatnya
bercerita karena Kim Sa tak menjawab satupun pertanyaan Jong Dae. Setelah
sampai disebuah pertigaan menuju utara dan selatan Jong Dae bertanya pada Kim
Sa akan arah menuju rumahnya.
“Sa
Rang, dimanakah rumahmu?”
Tak
ada jawaban.
“Sa
Rang...”
Jong Dae
menghentikan langkahnya sejenak. Dirasakannya kepala Kim Sa telah bersandar
dibahu Jong Dae. Nampaknya Kim Sa telah tidur menurut Jong Dae, iapun mencari
tempat terdekat untuk sekedar mendudukkan Kim Sa dan menanyakan lokasi
rumahnya. Belum sempat Jong Dae menurunkan Kim Sa, ternyata Kim Sa telah
terbangun dan mengintruksikan Jong Dae untuk kearah jalan yang bercabang kekiri
, rumah nomor 21 timur jalan. Lalu mengatakan nomor Pinnya pada Jong Dae.
“Igo
mwo-ya? Rumahmu searah dengan rumahku tapi aku tak pernah melihatmu? Apa kau
tak pernah keluar rumah?”
“Untuk
apa?”
“Hoosshh...
Kau menanyakan untuk apa? Untuk shopping kek, beli makan kek, ke salon”
“Aku
tak menggemari tempat ramai, dan untuk makan tersedia banyak ramyun dan
ddeokboki dan beberapa makanan instan dirumah”
“Aigoo,
kau tak bisa terus-terusan memakan itu Sa Rang, ani maksudku Kim Sa. Lihat
badanmu kuker”
“Kuker?”
“Ne,
KURUS KERING!” sahut Jong Dae dengan sedikit menekankan perkataan kurus kering.
“Bukankah ibumu bisa memasak untukmu?”
Rupanya
tak ada jawaban dari sosok yang saat ini berada dipunggungnya, mungkin Sa
Rang tertidur begitu fikirnya, sehingga ia tak memaksa Sa Rang untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar.
Kim
Sa sebenarnya mendengarkan semua perkataan dan pertanyaan Jong Dae, namun ia
memilih untuk diam dan tidak menggubrisnya, bahkan untuk pertanyaan terakhir
Jong Dae. Ia sangat mendengar dengan jelas, mendengar kata Ibu membuat hatinya
tersayat dan terasa tercekat di tenggorokannya. Kim Sa memposisikan dirinya layaknya
sedang tertidur, namun percayalah dengan posisinya saat ini, mustahil baginya
untuk tidur, bahkan sekedar memejamkan mata. Ia sudah terlalu sering menangis
hingga tak mampu mengeluarkan air matanya.
Cukup
memakan waktu 46 menit untuk menuju rumah Kim Sa yang berjarak 670 meter dari
sekolah dengan berjalan kaki ditambah dengan menggendong. Dengan tanpa
menurunkan Kim Sa yang masih melingkarkan tangannya pada leher Jong Dae, lelaki
tegap itu memencetkan nomor pin pada pintu rumah Kim Sa yang telah dikatakan
sebelumnya.
Rumah
Kim Sa bergaya minimalis dengan tata ruang yang simpel namun juga teratur.
Dinding-dindingnya berwallpaperkan bunga Sakura pink pada ruang tamu yang
tersambungkan langsung dengan ruang keluarga dan dapur dibagian belakangnya. Atap
ruang tersebut dibiarkan berwarna putih polos sehingga terkesan luas. Jong Dae
memalingkan pandangannya kekanan dan kekiri mengamati ruangan tersebut.
Terkesan sedikit sunyi dan berdebu dibeberapa tempat.
“Kamarku
dilantai 2” Kim Sa mulai bersuara.
Beralih
ke lantai 2 terdapat 3 ruangan, setelah melewati tangga ruangan pertama adalah
mini perpustakaan yang berada disamping kiri tangga. Kemudian tepat didepan
tangga dan ruang paling kanan adalah ruangan tertutup.
“Kamarmu?”
“Yang
paling kanan, ini adalah studio musik yang dulu sering digunakan Appaku” ucap
Kim Sa dengan menunjuk pada ruang tertutup didepan tangga.
Setelah
tiba didepan pintu kamar Kim Sa, Jong Dae membukakan pintu. Selangkah ia
memasukkan kakinya pada ruangan yang disebut sebagai kamar Kim Sa, Jong Dae
merasa heran bahkan setengah terkejut melihat aksen kamar tersebut, karena
memiliki perbedaan yang signifikan dengan desain ruangan pada lantai satu.
Kamar Kim Sa bercatkan warna hitam pada dua sisi dan biru dongker didua sisi
yang lain. Ruang tersebut terlihat sangat gelap. Ralat! Bahkan tak terlihat,
sehingga pada siang haripun diperlukan lampu untuk penerangan. Gordyn pada kamar
Kim Sa juga berwarna gelap, hingga segala perabot ruang tersebut. Mulai dari
almari, meja, televisi, penghangat ruangan, sprei dan bantal Kim Sa semuanya
berwarna gelap. Hanya lantai kamar tersebut yang menurut Jong Dae berwarna
putih cerah. Didalam kamar tersebut juga terdapat kulkas. Berwarna hitam
tentunya.
Perlahan
Jong Dae memposisikan Kim Sa agar dapat berbaring, kemudian ia membalikkan
badan lantas menarikkan selimut untuk Kim Sa.
“Jong
Dae-ah...”
***
“Who Are You 2”
“Jong
Dae-ah...” ucap Kim Sa dengan terbata-bata.
“Jong
Dae-ah, tak bisakah kau disini lebih lama?”
“Oh?”
sahut Jong Dae sedikit terkejut.
“Temani
aku malam ini”
Jong
Dae lantas menelan salivanya, apa maksudnya dengan temani aku malam ini?
Mungkinkah...? andwe! Sadarlah Jong Dae kau tak boleh berfikir macam-macam.
Tetaplah tampak sebagai manly kali ini. Ya... kali ini kau hanya perlu menelfon
eomma dan mengatakan untuk tinggal dirumah teman. Batin Jong Dae, berusaha
mengkontrol dirinya agar bersifat setenang mungkin.
“Emm
baiklah aku akan telfon eomma agar ia tak khawatir” Jong Dae berusaha serilex
rilexnya dan kemudian mengeluarkan smartphone dari saku celananya.
“Eomma,
aku menginap di rumah teman, ne, arasso arasso eomma kau tak perlu khawatir.”
Telfon singkat Jong Dae pun telah selesai. “Sekarang beristirahatlah.” Ucap
Jong Dae kepada Kim Sa sembari memposisikan duduk di ranjang dan sedikit
bersandar pada sandaran ranjang Kim Sa. Merasa tidak terlalu nyaman dengan
posisinya saat ini Jong Dae berniat mencari kursi dan membangkitkan dirinya.
Namun gerakannya berhasil ditahan oleh tangan Kim Sa. Mengisyaratkan untuk
tidak beralih dari tempat tersebut.
“Eomma...”
ucap Kim Sa.
Jong Dae
memahami isyarat dari Kim Sa untuk tidak meninggalkan tempatnya, namun dengan
perkataan yang barusan diucapkan Kim Sa tentu membuatnya bingung. Ia pun
menurut saja untuk tetap diposisinya.
***
Anak
kecil ini adalah anak baik, terlahir sebagai anak tunggal di kota Seoul. Dengan
perawakan tinggi, kulit putih, mata bulat, pintar dan bersifat sopan santun. Ia
tak akan pernah menyangka jika ia harus mengalami hari tersulit dan bahkan
menjadi hari yang tidak ingin ia temui seumur hidupnya. Hari itu langit cumulus
berlalu lalang di atas langit Korea Selatan. Menandakan hari itu cuaca sedang
baik. Anak kecil ini bersama dengan ayah, ibunya dan sepupunya hendak merayakan
hari ulang tahunnya yang ke 10 bertepatan dengan hari kemerdekaan Korea 15
Agustus 2009. Keluarga kecil ini melajuan mobil chevrolet menuju restaurant
Jepang milik keluarga. Hal yang setiap tahunnya dinantikan karena mereka memang
tidak ragu untuk mengeluarkan banyak budget sekedar untuk merayakan ulang tahun
anak tunggal ini.
Mereka
tidak pernah tahu dengan apa yang terjadi selanjutnya saat itu. Sepanjang jalan
mereka bernyanyi Lagu kebangsaan kemudian lagu ulang tahun dengan suka cita.
Barulah saat mereka melewati tikungan terakhir sebuah belokan kekiri pada
perempatan sebelum tiba di restaurant sebuah truk dari arah berlawanan
bermuatan air mineral terlihat kehilangan kendali dan tanpa ampun menghantam
keluarga kecil ini beserta 2 mobil dibelakangnya. Naas, mobil mereka terguling
kekiri dan menghantam pembatas jalan, terseret 20 meter dari tempat kejadian
awal dan berhenti tepat didepan pintu restaurant Jepang milik keluarga Kim. Dalam
2 menit total durasi kecelakaan tersebut, orang-orang yang berada di lokasi
kejadian dengan sigap menelfon 911 dan mencoba untuk membantu evakuasi dan
menyingkirkan galon berisi air mineral dari jalan raya yang lumayan padat hari
itu.
Gadis
kecil berambut lurus keluar dari jok mobil bagian belakang dan hanya bisa
menangis tak tahu apa yang harus ia perbuat, hanya menangis meneriakkan nama
Appanya. Gadis ini hanya terdiam berdiri disamping kanan mobilnya dengan
berkucuran darah pada kening, hidung dan telinganya, berharap Appanya bisa
keluar dari mobil tersebut. Tak lama kemudian, sosok wanita 29 tahun keluar
dari jok mobil bagian depan, tapi bukan dari pintu kemudi melainkan dari pintu
bagian kanan, gadis tersebut semakin menjadi tangisnya menyadari yang keluar
adalah sosok yang ia anggap layaknya penyihir. Wanita atau eomma dari gadis
kecil keluar dari mobil dengan terhuyun, dengan beberapa luka ditubuhnya akibat
percikan kaca mobil bagian depan yang ringsek total dan sudah tak terbentuk
layaknya mobil.
Beberapa
saat kemudian datanglah Ahjussi-ahjussi dengan pakaian seragam mendekat ke arah
gadis tersebut, salah satu diantara mereka menggendong gadis tersebut dan satu
yang lain mencoba membopong eomma dari gadis tersebut, dan ahjussi yang lain nampak mencoba membuka pintu dibalik kemudi untuk
mengeluarkan seseorang. Gadis kecil yang tak tahu apa-apa ini menangis
sejadi-jadinya saat salah satu ahjussi berhasil mengeluarkan lelaki 40 tahun
dari mobil tersebut. Gadis ini semakin bingung dan semakin tidak tahu, kenapa
Appanya hanya terdiam, kenapa Appanya tak meronta kesakitan layaknya ia dan
eomma. Kenapa Appa tak sanggup berdiri dan dibopong menggunakan tandu dan
dimasukkan kemobil putih bersirene itu? Sekarang dirinya hanya bisa melihat
mobil putih itu dari kejauhan. Dan dirinya dibawa oleh ahjussi yang
menggendongnya tadi menuju mobil putih lain bersama eomma dan 2 korban lainya.
Rumah
Sakit Seoul adalah tempat gadis itu saat ini, bukan lagi restaurant Jepang
sebagaimana rencananya pagi tadi. Bahkan harapan hari ulang tahunnya telah
sirna, tawa yang sebelumnya menghiasi raut muka gadis tersebut hilang, berganti
dengan linangan air mata yang tak henti hentinya mengalir dari sudut mata manik
gadis tersebut. Dengan infus yang tertancap pada punggung tangan kirinya ia
menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tempat itu berbau obat-obatan, dan
terdapat banyak orang yang berlalu lalang. Disudut lain wanita dengan dress
toska menundukkan pandangannya dengan perban di kepala. Wanita tersebut
menangis di depan dokter dan para perawat. Gadis kecil ini hanya dapat melihat
dari kejauhan, melihat eomma menangis dan mengeluarkan kata-kata yang membut
gadis kecil merasakan jantungnya berhenti berdetak.
“Andweee!
Tak bisakah kau kembalikan suamiku? Ia tak boleh meninggal!”
Seraya
tubuhnya digoncangkan bumi, tertusuk ribuan paku pada dadanya. Sesak, hingga
tak bisa bernafas. Gadis tersebut dapat mendengar dengan jelas perkataan
eommanya, Appa yang ia cintai telah tiada dan itu mengartikan bahwa ia harus
tinggal bersama eomma yang lebih mirip dengan penyihir. Membayangkan saja ia
sudah tak mampu.
Setelah
2 hari berada di rumah sakit gadis kecil ini dibawa oleh eommanya ke rumah abu,
tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Dengan hanya memandangi foto yang
tampak wajah lelaki sedang tersenyum gadis tersebut tak dapat menahan tangis
yang ia tahan sedari tadi.
“Mengapa
kau tega meninggalkanku secepat ini Appa? Kenapa kau tinggalkan aku dengan
penyihir itu? Kenapa?” namun tampaknya tak ada jawaban, yang ia lihat hanyalah
sosok yang nampak senang dibalik foto tersebut. Gadis kecil ini mulai berbicara
lagi. “Apakah Appa senang aku bersamanya? Aku tak mau Appa, aku hanya butuh
Appa yang bisa menjadi Eommaku, aku tak butuh siapapun, bahkan orang
disampingku ini (eomma). Siapa yang akan memanggilku Sa Rang? Tidak ada yang
akan menganggapku, dan orang ini tidak akan pernah peduli padaku Appa. Appa
kembalilah Ne?”
Alasan
dari perkataan gadis itu adalah karena ia sudah lama mengetahui bahwa
kehadirannya adalah bencana bagi eommanya, ia adalah anak yang tidak
diharapkan. Ia terlahir dari hubungan haram antara Kim Hyu Won dan Ryuka
Takahashi. Hubungan mereka pada awalnya adalah sebatas rekan kerja dimana Kim
adalah pelayan di restoran yang dimiliki Ryuka di Jepang. Dari hubungan
tersebut tentu dilarang oleh keluarga Ryuka, melihat strata mereka jauh diatas
keluarga Kim. Ryuka akhirnya diputuskan hubungan dengan keluarganya, ia juga
diputuskan oleh tunangannya.
“Jadi...”
putus Jong Dae ditengah Kim Sa bercerita.
“Ne,
Appaku adalah selingkuhan dari eomma ketika ia merasa frustasi karena
tunangannya sendiri tidak terlalu peduli dengannya. Semenjak kejadian 4 tahun
yang lalu aku yang selalu disalahkan oleh eomma. Menurutnya aku adalah pemutus
hubungannya dengan keluarga dan tunangannya, bahkan eomma sudah meninggalkanku
ke Jepang semenjak 3 bulan yang lalu. Dan ternyata hal tersebut diketahui oleh
teman dari eomma. Akhirnya aku menjadi bahan pembullyan teman-teman saat
dibangku JHS dan SHS tempatku dahulu. Aku yang sendirian memutuskan untuk pergi
dari Seoul meninggalkan kenangan buruk saat bersama eomma, walaupun berat
karena harus jauh dari pemakaman Appa. Dan kau pasti ingin bertanya kenapa aku
tidak terlalu berteman. Karena menurutku jika aku memiliki banyak teman aku
akan merasa mereka akan membullyku, lalu kau pasti bertanya kenapa aku selalu
berada diperputakaan, karena menurutku itu adalah tempat dimana orang akan terfokus
pada buku, dan tidak akan ada yang mempedulikanku, dan kau pasti juga heran
dengan keadaan kamarku, ya ini yang membuatku merasa nyaman, gelap, tanpa
diperhatikan seorangpun, ya aku sangat ketakutan untuk menatap seseorang untuk
waktu yang lama, aku juga takut akan sirene ambulans, ruangan rumah sakit
beserta dengan segala bebauan obatnya, aku juga takut dengan truk dan kau tentu
faham mengapa aku tak mau jika kau memanggilku Sa...
CUP...
sebuah ciuman mendarat dibibir Kim Sa. Ciuman dari Jong Dae pertanda ia harus
menyudahi ceritanya tersebut, ciuman bahwa Jong Dae telah mengetahui keadaannya
selama ini hingga mengubahnya sebagai orang yang dianggap aneh oleh orang lain.
Namun berbeda menurut Jong Dae, menurutnya Kim Sa adalah wanita kuat dengan menghadapi
semua itu. Tanpa pembalasan dari Kim Sa yang hanya terdiam dan membelalakkan
matanya Jong Dae menyudahi ciumannya.
“Mian...
hentikan Kim Sa, aku sudah tahu. Sekarang menangislah sebanyak yang kau
inginkan”
“Gwenchana
Jong Dae-ah panggil aku Sa Rang agar aku dapat merasakan kehadiran ayahku
ketika bersamamu”
Akhirnya
Jong Dae memeluk tubuh ringkih dari Kim Sa, erat. Tidak mereka sekarang berada
dalam satu ranjang dan perlahan Kim Sa juga melingkarkan tangannya pada perut
Jong Dae, bersembunyi pada dada bidangnya dan secara bebas melinangkan air
mata. Jangan berfikiran aneh-aneh. Jong Dae masih waras dan tak akan melakukan
hal yang lebih dari itu ia hanya memberi pelukan dan mengelus rambut Kim Sa serta
membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.
“Jebal,
jangan lakukan hal itu lagi di depanku Sa Rang” gumam Jong Dae lirih.
***
“Look At Me”
Kim Sa membuka matanya perlahan yang terasa sembab, samar namun tetap
terlihat sosok lelaki didepannya. Mengejutkan ia berada pada ranjang yang sama
dengan lelaki dengan lengannya yang melingkar pada pinggang lelaki tersebut.
Mencoba memperjelas penglihatannya dengan menyipitkan matanya ia merasa lelaki
tersebut tak asing baginya, Jong Dae. Ia begitu damai dengan wajah terlelap
seperti ini. Iseng Kim Sa menyusuri wajah Jong Dae, menyentuh dagi,
kemudian hidungnya.
Kim Sa masih bingung kenapa lelaki tersebut bisa berada ditempatnya dan
mengapa ia membiarkan lelaki tersebut tidur bersamanya. Menghawatirkan sesuatu
Kim Sa melihat kebawah selimutnya, dan untung ia masih berseragam lengkap
dengan sepatunya yang belum terlepas. Ia mencoba mengingat kejadian dihari
kemarin. Tunggu! Sebuah nama samar teringat ditelinganya “Nega..Zhang Yixing
imnida” namun setelahnya ia telah lupa semuanya dan mengingatnya lebih lama
membuat kepalanya semakin pusing.
Kim Sa bangkit dari tempatnya dan mengakibatkan sedikit goncangan pada
tempat tidurnya. Jong Dae pun ikut terbangun dan mendapati Kim Sa dengan
tatapan tajam tertuju padanya.
“Wae kau berada disini?”
“Oh- na? Kemarin kau sakit dan memintaku untuk tinggal disini.”
“Jinjja?”
Kim Sa sungguh tak mengingat kata-katanya satupun setelah percakapannya
dengan namja mineral yang telah ia ketahui namanya yaitu Zhang Yixing. Berfikir
bahwa Jong Dae tidak membahayakan baginya ia memutuskan untuk tidak mengambil
pusing apa yang telah terjadi semalam.
“Emm... Apakah, kau kenal dengan Zhang Yixing?”
Jong Dae mendengarnya tersontak serta sedikit kecewa pada Kim Sa, namun
setelah mendengar cerita dari Kim Sa ia tak tega untuk mengekangnya untuk tidak
berhubungan dengan orang lain, tak terkecuali rivalnya Zhang Yixing terlebih
saat ia melihat Kim Sa saat berciuman membuat hatinya tak tega melihat orang
yang disayanginya direbut orang lain sekaligus merasa kasihan apabila ia tak
dapat membuat Kim Sa bahagia.
“Oh-
Ne aku mengenalnya. Ia dikelas yang sama dengan kita Kim Sa. Ia adalah Gitaris
dari Wolf band disekolah.” Jong dae terlihat biasa dan mengembangkan senyum yang
dibuat-buat pada Kim Sa.
Mendengar
kalimat tersebut Kim Sa langsung mengembangkan simpul U pada mulutnya,
menandakan ia senang dapat mengenal pria yang selalu memberinya mineral.
“Mian
Kim Sa, kurasa kau sudah sembuh jadi aku mau pulang”
“Oh
ne, gumawo Jong Dae-ssi”
Jong Dae hanya kecewa, ya.. ia kecewa karena tidak pernah dianggap
keberadaannya saat itu. Bahkan Jong Dae rasa Kim Sa juga telah lupa dengan apa
yang telah ia ceritakan mengenai keluarganya tadi malam. Dan ditambah Kim Sa
memanggilnya dengan Jong Dae-ssi setelah sebelumnya memanggil Jong Dae-ah. Ia
benar-benar tak habis fikir dengan perilaku gadis ini. Apakah kau
benar-benar lupa Sa Rang? Mengapa ia begitu cepat melupakan kejadian tadi
malam? Batin Jong Dae dalam hati.
***
Seperti
biasa, berangkat pada jam 07.00 waktu KST kemudian mendengarkan ceramah dari
guru yang pada akhirnya tak membuahkan hasil kemudian pergi ke perpustakaan
pada jam 13.00 tentunya untuk tidur. Dengan lokasi yang sama setiap hari
dipojok ruangan yang lurus dengan deretan buku psikologi kemudian menghadap ke
jendela sembari menelungkupkan kedua tangannya pada meja. Sungguh Kim Sa tak
pernah bosan untuk melihat taman di halaman depan Giyonggi High School.
‘Tok
tok tok’. Suara sepatu terdengar di telinga Kim Sa saking heningnya ruangan
tersebut, suara itu terdengar semakin keras dari tempat duduk Kim Sa. Dan
ketika ia mengalihkan pandangannya dari jendela ia mendapati sosok tegap
berambut hitam pekat yang kini mulai familiar dimatanya, Zhang Yixing. Lelaki
berbangsa China yang merebut ciuman pertama Kim Sa namun tidak pernah dirasakan
oleh Kim Sa walau saat itu tidak dapat dipungkiri kalau ia juga menikmati mulut
yang lembut tersebut.
Lelaki
itu menempatkan posisi duduknya disamping Kim Sa dan ia kini yang melihat ke
jendela. Tersenyum, kemudian bertanya pada Kim Sa.
“Jadi
kau kesini..”
“Ne,
aku kesini hanya untuk melihat itu...” ucap Kim Sa dengan menunjuk taman
berbentuk mata.
Saat
ini sungguh Kim Sa tak dapat mengkontrol detak jantungnya. Aliran darahnya pun
terasa deras mengalir keseluruh tubuhnya. Semua hormonnya pun turut andil, ia
tak berani menegakkan kepalanya karena pasti pipinya telah merah karena nervous
untuk sekedar memandang Zhang Yixing.
“Sepertinya
kau menyukai perpustakaan Kim Sa. Bisakah kau menemaniku ke toko buku setelah
pulang sekolah nanti.”
Senyum
terukir jelas dibibir Kim Sa. Tanpa menjawabnya, Kim Sa hanya mengangguk untuk
mengiyakan tawaran dari Zhang Yixing.
***
Jong
Dae, Chanyeol dan Sehun berniat untuk
melatih kekompakan dari band mereka dengan menyewa sebuah studio musik yang
berdekatan dengan rumah mereka sepulang sekolah. Dalam perjalanan Chanyeol melihat rivalnya Zhang Yixing sedang bersama
wanita yang menurutnya tak asing. Ia memperjelas penglihatannya dengan mengucek
matanya. Ia tak salah lihat, lelaki itu memang Zhang Yixing. Dan wanita itu....
“Sehun,
kau harus tutupi penglihatan Jong Dae karena terdapat hal yang tak sedap untuk
dilihat.” Bisik Chanyeol pada Sehun
dengan mengisyaratkan matanya menghadap ke arah Zhang Yixing.
Seketika
itulah Sehun berupaya menutupi penglihatan Jong Dae agar tak menghadap pada Zhang
Yixing dan wanita tersebut yang tak lain adalah
Kim Sa. Merasa ada yang aneh pada perilaku Sehun Jong Dae berupaya
tenang. Barulah saat itu ia sadari dibalik punggung Sehun nampak lelaki bersama
wanita yang sedang tersenyum ria sembari melihat beberapa buku didalam toko di
seberang jalan, namun sebagaimana sifat Jong dae, ia berupaya setenang mungkin
menghadapi situasi seperti ini.
“Gwenchana
Sehun, aku sudah pernah melihatnya.”
“Benarkah?
Aahh seharusnya aku tak perlu repot-repot.” Ucap Sehun
Dari
dalam toko buku, Zhang Yixing nampak telah usai memilih buku dan membayarnya.
Setelah dari kasir Zhang Yixing menghampiri Kim Sa yang menunggu di bagian
depan toko.
“Kim
Sa, apakah kau mau es krim?”
Dengan
senyum dan raut muka yang nampak gembira, tanpa jawaban pun semua orang
mengetahui kalau Kim Sa menginginkan es krim. Keduanya keluar dari toko buku dengan
mengaitkan tangan dan menuju ke kedai es krim yang berjarak tak jauh dari toko
buku.
Kim
Sa memilih es krim red velvet sedangkan Zhang Yixing memilih black forrest.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Baru beberapa
langkah mereka berjalan Zhang Yixing mendapati 3 namja, satu membawa gitar,
yang satunya lagi membawa stik drum dan yang satu lelaki menggunakan kaos
casual hitam dengan setelan jeans terlihat sedang memandanginya. Zhang Yixing
tahu kenapa namja tersebut memandangnya demikian, namun ia santai saja dengan
tetap berjalan mengubah posisi tangannya yang semula menggenggam menjadi
melingkarkannya pada pinggang langsing Kim Sa.
“Kim
Sa...” ucap Zhang Yixing kepada Kim Sa yang masih menikmati es krimnya.
“Ne, Zhang
Yixing. Waeyo?”
Tanpa
menjawab Zhang Yixing mendekatkan wajahnya dengan cepat dan menempelkan
bibirnya ke bibir Kim Sa. Menjilat es krim yang masih tersisa di bibir Kim Sa.
Sepertinya sensasi bibir Kim Sa saat ciuman mereka di loker membuat Zhang
Yixing ketagihan dan menginginkannya lebih. Lalu Kim Sa? Kim Sa tak tahu ia
harus bagaimana, ia yang terkaget hanya membelalakkan matanya. Ada sensasi yang
membuatnya tak bisa berkutik. Ia ingin menyudahinya, terlebih itu ditempat
umum. Namun ciuman itu lembut dan Kim Sa menikmatinya. Merasa pasokan oksigen Zhang
Yixing menipis, ia melepas ciumannya.
“Aku
hanya ingin membersihkan es krim yang belepotan.” Ucap Zhang Yixing ringan.
Bukannya
marah sperti respon biasanya, Kim Sa malah tersenyum mendengar kalimat yang
terucap dari Zhang Yixing.
Diseberang
jalan 2 orang berusaha menutupi penglihatan Jong Dae dengan tangan mereka, ya..
mereka melihatnya dengan amat sangat jelas. Dua orang berciuman layaknya ice
cream couple. Mereka ingin mengajak Jong Dae beralih dari posisinya, namun Jong
Dae seperti membeku, tak berkutik sama sekali.
“Kajja”
ucap Jong Dae tiba-tiba, dan melangkahkan kakinya ke studio yang berjarak 50 meter
dari tempat mereka berdiri. Kemudian Chanyeol dan Sehun mengikuti Jong Dae dengan setengah
berlari.
(di
studio musik)
“Sudah
5 kali kita memutar lagu yang sama Jong Dae-ah, aku tahu bagaimana perasaanmu,
tapi.. tak bisakah kau mengesampingkan masalah pribadimu dan kembali fokus?
Waktu kita tinggal satu minggu untuk music wave.” Bentak Chanyeol . “Ayolah...
masih banyak wanita di sekolah, lagian Kim Sa masih kalah seksi daripada si
kembar” tambahnya lagi.
“Butuh
air Jong Dae? Kurasa tenggorokanmu sedang kering.” Gumam Sehun. Ia memilih
untuk mengalihkan topik pembicaraan daripada ikut mengompori celotehan Chanyeol.
Ketiganya
meninggalkan studio dan memilih tidak melanjutkan latihan mereka yang memang
cukup kacau untuk diceritakan. Membeli minuman untuk sekedar menggantikan ion
yang hilang.
Jong
Dae-ssi, bisakah kau kerumahku malam ini?
***
“Please”
Chanyeol
dan Sehun masih menikmati minumannya,
dan Jong Dae hanya memasang wajah kusut, seperti baju tak pernah disetrika.
Pandangannya kosong, tak terukir senyuman sama sekali. Dan tentunya Chanyeol dan Sehun mengetahui alasannya. Kim Sa.
Smartphone
Jong Dae berbunyi. Dilayarnya tertulis nama yang tak ia sangka, Sa Rang.
Jong
Dae-ssi, bisakah kau kerumahku malam ini?
Seketika
tersungging senyum di bibir Jong Dae. Ia lantas berpamitan pada Sehun dan Chanyeol
untuk pulang terlebih dahulu. Dan
keduanya hanya mengiyakan permohonan Jong Dae, mau bagaimana lagi?
***
Jam
ditangan Jong Dae telah menunjukkan pukul 19.00 KST, dengan langkah tegap
mengenakan kemeja hitam polos dan jeans.
Jong
Dae telah tiba didepan rumah Kim Sa, kemudian memencet pintu interkom didepan
rumah Kim Sa. Tak berapa lama muncullah sosok yang ia nanti, mengenakan short
yang berjarak 20 cm diatas lutut dan kemeja kebesaran yang, ehem sangat tipis
dan bahkan Jong Dae dapat melihat bra merah didalamnya.
Apa
maksud gadis ini menggunakan pakaian seperti ini? Apakah ia mencoba merayuku?
Aiishh sadarlah Jong Dae! Bukankah wajar bagi wanita menggunakan pakaian
seperti itu? Jong Dae hanya membatin dan mencoba memasang senyum di
wajahnya. Dan memasuki rumah Kim Sa.
“Ehmm
kenapa kau menyuruhku kesini Sa Rang?”
“Kim
Sa! Kenapa kau terus-terusan memanggilku Sa Rang?”
Jong
Dae mengernyitkan dahinya apakah dia mengalami alzeimer? Bukankah dia yang
memintaku untuk tetap memanggilnya sa rang?
“Mian... aku hanya ingin
memanggilmu dengan sebutan yang lain, bukankah terlalu pasaran jika aku
memanggilmu Kim Sa?” celetus Jong Dae spontan. “Dan ada apa kau menyuruhku
untuk kemari?”
Kim
Sa sibuk di dapur, entah apa yang akan ia perbuat, yang jelas mungkin ia akan
memasak karena sekarang Kim Sa sibuk memotong labu dan beberapa bahan lainnya.
“Jong
Dae-ssi, bisakah kau membantuku?”
“Eoh...
membantu apa?”
“Tolong
potong beberapa labu ini, aku akan mengenakan celemek.”
Jong
Dae memang cukup mahir dalam memasak, terlihat dengan kelihaiannya memotong
labu dan beberapa bahan didepannya. Sementara Kim Sa mengenakan celemek dan
menyiapkan air rebus.
Tersirat
senyum di bibir Jong Dae, namun ada hal ganjal baginya. Sejak kapan Kim Sa
memasak bahan mentah? Sembari berfikir tak lama kemudian didengarnya Kim Sa
menjerit, ternyata tangannya mengenai bibir panci dan membuat tangannya sedikit
melepuh. Jong Dae yang melihatnya dengan sigap mencari salep dan mengoleskannya
pada tangan Kim Sa.
“Kau
berhentilah memasak, biar aku saja.”
Kim
Sa tak mampu menolak, dan hanya mengiyakan saja. Akhirnya ia tak dapat membantu
Jong Dae dan hanya melihat dari tempat makan.
45
menit berlalu, sup labu telah siap untuk disajikan. Jong Dae membawa masakannya
ke meja makan dan tak lupa mengambilkan Kim Sa semangkuk penuh sup.
Smartphone
Kim Sa berdering, dan senyum tersimpul manis di wajahnya. “Ini sedang makan
oppa, ne gwenchana sudah ada yang memasak, gumawo oppa.” Kemudian menutup
handphonenya dan melanjutkan makan.
Jong
Dae tak mau ambil pusing dengan siapa Kim Sa tadi bertelefon. Dan mengalihkan
topik pembicaraan.
“Aku
senang kau bisa makan selayaknya manusia dan tak makan makanan instan lagi.”
“Ah..
ini karena oppa, dia membelikanku beberapa sayuran sepulang membeli buku tadi
siang.”
“Op-oppa?”
Kim
Sa tersenyum. “Ne, aku baru saja menemukan Oppaku 5 jam yang lalu, lebih
tepatnya ia menjadi seperti sepupuku yang menghilang bersamaan dengan
orangtuaku. Karena telah 4 tahun berlalu, kurasakan sepupuku kembali. Ia
berambut hitam pekat dan bermata sipit seperti orang China. Tadi sore ia
membelikanku sayuran ini, dan es krim yang sangat lezat. Aku juga mengetahui
nomormu dari handphonenya. Ahh mian jika merepotkanmu Jong Dae”
Mendengar
clue yang disampaikan Kim Sa, Jong Dae menyadari siapa namja yang ia
rekrut sebagai oppanya. Zhang Yixing.
“Jong
Dae-ssi, apakah Zhang Yixing sudah memiliki yeojachingu?”
Jong
Dae yang mendengar lantas tersedak oleh makanannya. Apakah Sa Rang menyukai Zhang
Yixing?
“Ehmm molla, mungkin belum” ucap
Jong Dae dengan lidah yang kelu. Mengatakan hal demikian bukankah sama saja
memberi Kim Sa kesempatan untuk mendekati Zhang Yixing? “Tak bisakah aku
memanggilmu Sa Rang?” kata yang spontan keluar dari Jong Dae.
Kim
Sa terdiam saat mendengarnya setelah menyuapkan sup labu kemulutnya. Sungguh di
luar dugaan, sup buatan Jong Sae memiliki rasa yang sama dengan buatan almarhum
ayahnya, tak terasa buliran air dari sudut matanya membasahi pipi mulus Kim Sa.
Memandang sosok disampingnya dengan isakan tangis.
“Wae?
Jika kau keberatan gwenchana aku akan memanggilmu Kim Sa, jangan menangis” ucap
Jong Dae sembari menghapus air mata dipelupuk mata kiri Kim Sa.
Reaksi
yang tak diduga Jong Dae, Kim Sa mendekatkan tubuhnya dan memeluk Jong Dae.
Erat. Dan kembali mengalirkan air matanya sambil terisak tanpa henti.
“Ani...
panggil aku sesukamu.”
Jong
Dae tersentuh mendengar kalimat dari Kim Sa dan mengeratkan pelukannya sembari
mengelus rambut Kim Sa. Butuh waktu 25 menit hingga isakan Kim Sa terhenti dan
tanpa sadar tertidur dipelukan Jong Dae.
“Apakah
semudah itu untuk tidur? Dengan posisi duduk seperti ini? Kau memang putri
tidur Sa Rang.”
Jong
Dae membawa Kim Sa ke tempat tidurnya dilantai 2, membaringkannya, dan tak lupa
menyelimuti tubuhnya. Beberapa saat kemudian Kim Sa mengigau, menyebutkan nama Zhang
Yixing hingga 2 kali. Dan hal tersebut membuat Jong Dae bersedih. Memandangi
Kim Sa membuat Jong Dae tak kuasa untuk meninggalkannya begitu saja. Sebelum
meninggalkan Kim Sa, Jong Dae mengecup dahi, kemudian mata dan menghentikan
ciumannya di mulut Kim Sa yang sepertinya menjadi hobi baru Jong Dae, karena
menurutnya Kim Sa mungkin tak akan pernah mengizinkan Jong Dae menciumnya jika
Kim Sa dalam keadaan sadar. Cukup lama ciuman Jong Dae dan kini ia tak kuasa
menitihkan air matanya. Siapakah aku bagimu Sa Rang? Tolong jangan sebut
nama itu lagi.
Setelah
puas memandangi Kim Sa, Jong Dae memilih untuk pulang daripada menginap di
rumah Kim Sa. Ia mematikan lampu kemudian meninggalkannya di ruangan gelap
kamarnya.
***
Waktu
menyisakan 3x24 jam sebelum music wave diselenggarakan untuk memperingati ulang
tahun Giyonggi High School. Sementara sebagai salah satu pengisi acara Dreamer
band masih belum bisa dikatakan siap dengan keadaan main aktor Jong Dae yang yaahh
kalian tahu sendiri. Belum sempat bersuara tiba-tiba Jong Dae meninggalkan
ruang musik.
Sehun
dan Chanyeol hanya menggelengkan
kepalanya dan sudah menginginkan untuk mundur dari kompetisi. Mereka sedikit memperhatikan
gerak gerik Jong Dae yang nampaknya menuju perpustakaan.
“Anak
itu ke perpustakaan? Wooah ini kali pertamanya aku melihatnya ke perpus Sehun.”
Ujar Chanyeol kaget
Tanpa
menjawab Sehun segera melangkahkan kakinya mengikuti Jong Dae menuju
perpustakaan. Sementara Chanyeol tak
mengikuti jejak kedua temannya dan memilih bermain drum sesuka hatinya dengan
tempo yang awur awuran.
Jong
Dae kembali melihat layar Smartphonenya.
Ada
pemandangan yang sangat mengagumkan di perpustakaan bagian utara.---Huang Zitao
Jong Dae berusaha tak menggubris
SMS dari Tao, tapi membaca kata perpustakaan membuatnya teringat akan Kim Sa
yang selalu menuju perpustakaan kala ia latihan diruang musik yang berada disebelahnya.
Setengah berlari Jong Dae menyusuri perpustakaan, hingga saat berada diruang
baca bagian utara ia menghentikan langkahnya.
***
Kim
Sa menuju perpustakaan jam 13.00, seperti biasa memposisikan duduknya di
barisan buku psikologi, berada disebelah kiri jendela yang berhadapan dengan
taman. Ia hendak tidur, namun kegiatannya kali ini mungkin akan gagal dengan
kedatangan Zhang Yixing dan 3 temannya Tao, Baekhyun dan Kyungsoo.
“Annyeong
Kim Sa...” sapa Tao.
“Ah,
ne. Ada apa kalian kesini?”
“Hanya,
membaca. Dan kami melihatmu sendirian” papar Baekhyun. Sementara Kyungsoo tak
ikut nimbrung teman-temannya dan lebih terfokus dengan buku yang ia pegang.
Zhang
Yixing tidak menyapa Kim Sa, hanya tersenyum dan memposisikan duduknya
disebelah Kim Sa. Dan Kim Sa? Yah seperti biasa, jantungnya berdebar dan merasa
darahnya tak berhenti mengalir. Panas walau ruangan tersebut full AC.
Tiga
teman Zhang Yixing tidak mengikuti duduk dan memohon izin untuk ke kantin,
meninggalkan Kim Sa bersama Zhang Yixing. Diambang pintu Tao mengirimkan pesan
untuk Jong Dae agar menuju perpustakaan.
Kali
ini murid-murid sedang menyibukkan diri menyambut ulang tahun sekolah yang akan
dimulai esok hari. Perpustakaan saat itu sangat sepi, dan hanya menyisakan Zhang
Yixing dan Kim Sa.
“Kim
Sa-ah”
“Ne, Oppa”
“Hmm,
maukah kau menjadi yeojacinguku?”
Lagi-lagi
Kim Sa merasa jantungnya benar-benar berdebar dan merasa ingin berhenti,
membelalakkan matanya sejenak. Mengamati ukiran tuhan yang sempurna pada wajah
namja bermarga Zhang didepannya saat ini. Setelah beberapa lama berfikir, Kim
Sa merasa benar-benar jatuh cinta dengan Zhang Yixing, manis menurutnya. Kim Sa
kemudian tersenyum, entah dorongan dari mana mengekspresikan ia ingin menerima Zhang
Yixing.
Jong
Dae berada di pintu masuk perpustakaan melihat Tao, Baekhyun dan Kyungsoo, ia
tak melihat Zhang Yixing. Semakin jelas bahwa Zhang Yixing berada didalam
bersama Kim Sa, menurutnya. Ia hanya memasang tatapan tajam pada tiga rivalnya,
sedangkan tiga rivalnya hanya memasang smirk pertanda ia melecehkan Jong Dae.
Dengan tergesa-gesa Jong Dae memasuki perpustakaan, menyusuri puluhan rak buku
sebelum didapatinya namja yang menyatakan cinta dan dibalas wanita dengan mata
manik disampingnya tersenyum dengan namja tersebut.
Melihat
Kim Sa tersenyum membuat Zhang Yixing tergoda dan tak ingin meninggalkan
kesempatannya. Ia mendekatkan tubuhnya, membisikkan ketelinga Kim Sa sebuah
kalimat yang membuat jantung Kim Sa berdesir dan hanya dapat menggenggam roknya
erat.
“Bolehkah
aku menciummu?”
Jelas
Kim Sa tak menjawab dan membeku. Saat seperti ini Zhang Yixing mendekatkan
wajahnya dan kini mata mereka telah berhdapan, bahkan hidung mereka telah
bersentuhan. Kim sa memejamkan matanya. Tidak! Kenapa ia memejamkan matanya,
bukankah pertanda ia siap untuk dicium? Entahlah.. yang jelas Kim Sa spontan
melakukan hal tersebut. Dan Zhang Yixing semakin mendekatkan wajahnya,
menempelkan bibirnya pada bibir Kim Sa. Melumat perlahan dengan lembut. Kim Sa
sudah tak dapat mengendalikan dirinya, tangannya bahkan beralih dari rok
pendeknya menuju tengkuk Zhang Yixing. Zhang Yixing semakin menjadi, ia mencoba
menggigit bibir Kim Sa agar diperbolehkan lidahnya memasuki mulut Kim Sa. Dan
berhasil, kali ini Kim Sa benar-benar gila, bahkan ia membalas ciuman seorang
namja untuk pertama kalinya. Tangannya meremas rambut Zhang Yixing, dan Zhang
Yixing? Jangan tanyakan lagi. Ia lebih mendominasi ciuman panas saat ini dan
ketika merasa pasokan oksigennya mulai menipis ia melepas ciumannya dan beralih
pada leher Kim Sa.
“Bukankah
pemandangan yang indah Jong Dae-ssi” bisik Tao pada telinga Jong Dae kembali
dari ambang pintu dengan menepuk bahunya.
Dari
belakang muncul Sehun yang melihat Jong Dae disamping Tao, ia menghampiri
keduanya dan Oh ia terkejut sekali melihat ulah Zhang Yixing. Ia mencoba
menghampiri Zhang Yixing namun ditahan oleh Jong Dae.
“Biarkan,
kajja kita latihan.” ucap Jong Dae sembari menarik tangan Sehun.
“Wooahh,
kau keren sekali Jong Dae-ssi” sahut Tao.
***
Dalam
perjalanan pulang Jong Dae dan kedua temannya kembali bertemu dengan Kim Sa,
dan lagi-lagi saat ini ia bersama Zhang Yixing berboncengan. Dengan arah rumah
yang sama, mereka pulang beriringan.
“Annyeong
Jong Dae, dunia nampak sempit ya?” ujar Zhang Yixing sembari memberi smirk pada
Jong Dae.
“Aissh
anak ini.” Balas Chanyeol .
Kim
Jong Dae. Ia tak menggubris Zhang Yixing layaknya tak pernah mengenal, dan
memilih untuk memasangkan earphone daripada melayani omongan Zhang Yixing yang
lebih mirip dengungan lebah baginya, walaupun sesekali ia melirik Kim Sa yang
nampak bahagia dan tak berekspresi seperti saat ia memboncengnya.
‘aku
baru saja menemukan Oppaku 5 jam yang lalu, lebih tepatnya ia menjadi seperti
sepupuku yang menghilang bersamaan dengan orangtuaku. Karena telah 4 tahun
berlalu, kurasakan sepupuku kembali. Ia berambut hitam pekat dan bermata sipit
seperti orang China. Tadi sore ia membelikanku sayuran ini, dan es krim yang
sangat lezat’ tiba-tiba kalimat itu terngiang ditelinga Jong Dae.
Hingga
didepan rumah Kim Sa, Jong Dae tak memberi sapaan atau sekedar salam, ia
berusaha bersikap sedingin mungkin layaknya es kutub. Diamatinya Zhang Yixing
memasuki rumah Kim Sa. Tunggu! Kim Sa membiarkan orang lain selain dirinya
untuk menginjakkan kaki dirumahnya. Kejadian malam itu saat Jong Dae diminta
lebih lama dirumah Kim Sa membuatnya khawatir kala Kim Sa melakukan hal yang
sama dengan Zhang Yixing.
“Andweeeee!!!!”
teriak Jong Dae.
Ia
kembali memutar laju sepedanya dan berhenti dirumah Kim Sa. Tak peduli akan
sepedanya, Jong Dae langsung mengetuk pintu interkom di depan rumah Kim Sa.
Berulang kali ia memencet bel, namun sepertinya Jong Dae kurang beruntung, tak
ada respon. Semakin khawatir Jong Dae mondar mandir didepan rumah Kim Sa
layaknya setrika.
Sepuluh
menit berfikir Jong Dae memutar otaknya lebih keras hingga barulah ia teringat pin
yang diberikan Kim Sa saat sepertiga sadar digendongannya. Buru-buru ia menekan
tombol dengan 4 digit kemudian menuju pintu depan yang kebetulan tak dikunci
saat itu.
Seperti
dugaan Jong Dae, tak ada seorangpun dilantai bawah. Kim Sa pasti berada
dikamarnya. Jong Dae melewati tangga mengarah keruangan yang berada paling
kanan. Sesaat ia akan membuka pintu Jong Dae mendengar dialog antara Kim Sa
dengan Zhang Yixing.
***
Kim
Sa baru turun dari sepeda Zhang Yixing, sesaat ia akan mengucapkan salam pada
Jong Dae yang ada dibelakangnya namun Jong Dae terlihat dingin, seperti sedang
memiliki masalah. Senyum yang Kim Sa ingin lontarkan berpindah kepada Zhang
Yixing yang ada disampingnya.
Kim
Sa membuka pintu interkom. “Kau tak masuk Oppa?” tanya Kim Sa pada Zhang Yixing.
“Bolehkah?”
“Tentu
saja, lagipula aku tidak memiliki teman saat ini.”
Kim
Sa dan Zhang Yixing langsung menuju lantai dua, tepatnya dikamar Kim Sa.
Seperti orang kebanyakan, Zhang Yixing juga terkejut dengan desain kamar Kim
Sa, dan dengan sabar Kim Sa menceritakan kisahnya.
Dari arah luar Jong Dae dapat
mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Kim Sa. Kembali ia mengurungkan
niatnya untuk membuka pintu kamar Kim Sa.
“…kau pasti ingin bertanya kenapa aku tidak terlalu
berteman. Karena menurutku jika aku memiliki banyak teman aku akan merasa
mereka akan membullyku, lalu kau pasti bertanya kenapa aku selalu berada
diperputakaan, karena menurutku itu adalah tempat dimana orang akan terfokus
pada buku, dan tidak akan ada yang mempedulikanku, dan kau pasti juga heran
dengan keadaan kamarku, ya ini yang membuatku merasa nyaman, gelap, tanpa
diperhatikan seorangpun, ya aku sangat ketakutan untuk menatap seseorang untuk
waktu yang lama, aku juga takut akan sirene ambul...” Ucap Kim Sa panjang lebar
yang kemudian terhenti karena ia merasa pernah menceritakan ceritanya pada seseorang,
tapi ia tak dapat mengingat lebih jauh siapa orang tersebut, yang ia tahu ia
baru kali ini mengundang namja masuk kekamarnya. Walau didapatinya Jong Dae
berada dikasurnya beberapa waktu yang lalu. Mungkinkah ia bercerita pada Jong
Dae? Lagi pula ia tidak mengajak Jong Dae dan Jong Dae yang masuk di kamarnya.
Tak ingin ambil pusing, Kim Sa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Delapan belas menit kemudian Kim Sa baru keluar dan Zhang Yixing pun membuka
perbincangan.
“Eh,
Kim Sa-ah, bolehkan aku menginap disini?” ucap Zhang Yixing gugup, sebelum
bergantian menuju kamar mandi.
“Emm
tentu, kau kan Oppaku!” ucap Kim Sa enteng.
Jong
Dae yang berada dibalik pintu kamar Kim Sa sudah tak tahan dengan dialog
tersebut, ia hendak tak meneruskan langkahnya untuk membuka pintu karena bukan
lagi haknya melarang Zhang Yixing kalau Kim Sa sudah mengizinkan. Ia ingin
pergi dari tempat tersebut, tapi sungguh sial kakinya menyandung sebuah guci
yang berada disamping pintu kamar Kim Sa sehingga menimbulkan bunyi.
Zhang
Yixing yang dari dalam kamar mendengar suara dari arah luar. Penasaran, ia
mendekati sumber suara dengan membuka pintu. Begitu membuka pintu ia terkejut
melihat sosok yang tak asing baginya, masih menggunakan seragam dan terlihat
membenarkan posisi guci disampingnya.
“Ada
apa kau kesini?” tanya Zhang Yixing dingin.
“Mwo?
Aku yang seharusnya tanya. Ada apa kau kekamar Kim Sa?” Jong Dae bertanya
balik.
“Waeyo
Opp...” suara Kim Sa terhenti saat melihat Jong Dae didepan pintu kamarnya.
“Jong
Dae-ssi, bagaimana kau bisa masuk?”
“Uh
nega? Kau yang memberikanku pin pintu rumahmu Kim Sa”
“Tak
mungkin, hanya Oppa yang kuberitahu.”
“Apa
mungkin kau menguping?” sahut Zhang Yixing.
Jong
Dae menghilangkan kesan ramahnya saat ini. Ia benar-benar marah dikatakan
menguping, walau kenyataannya memang begitu. Wajahnya merah padam, emosinya
kali ini tak dapat ditahan. Benar-benar bukan Jong Dae. Ia melayangkan pukulan
keras pada pipi Zhang Yixing, lalu membangunkannya dan membenturkan tubuh Zhang
Yixing ke tembok.
“Oh,
apakah kau bisa berkelahi?” ejek Zhang Yixing.
Jong
Dae semakin murka, ia mengangkat tubuh Zhang Yixing dengan memegang kerah Zhang
Yixing. Tangannya sudah mengepal hendak memberi pukulan terkeras yang ia
miliki.
“CUKUUUUP!!!”
teriak Kim Sa. “Jong Dae-ah, pergilah! Kenapa kau selalu ikut campur dalam
urusan orang lain?” bentak Kim Sa.
Jong
Dae terkejut dengan perkataan Kim Sa. Bukankah ia membela Zhang Yixing? Musuh
bebuyutannya disekolah. “Mwo? Ikut campur? Sa Rang, dia bukan lelaki baik.”
Jelas Jong Dae.
“Oh
ya? Apakah lelaki baik itu seperti dirimu yang selalu ikut campur urusan orang
lain? Yang masuk rumah tanpa izin? Lagipula Zhang Yixing telah menjadi pacarku.
Pergilah Jong Dae. Aku tak mau melihatmu lagi lebih lama!”
Lagi-lagi
Jong Dae terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Kim Sa. “Aku tahu. Bahkan aku
melihat dengan jelas di perpustakaan, Oh kau sekarang sudah dewasa Sa Rang.”
Tutur Jong Dae. “G-geurae, aku akan pergi.” Jong Dae melangkahkan kakinya
menuruni tangga menjauhi Kim Sa dan Zhang Yixing. Dari bawah Jong Dae dapat
melihat mimik wajah Zhang Yixing tersenyum puas melihatnya.
Tolong
Kim Sa, jangan lakukan ini..... bisik Jong Dae dalam hati dengan
menggenggamkan tangannya didepan dada.
“Namja itu Zhang Yixing”
Dreamer
band akan perform 20 menit lagi, walau ragu Jong Dae meyakinkan rekan setimnya
untuk tetap maju dengan segala resiko yang mungkin terjadi karena tragedi hot
kiss diperpustakaan, dan kejadian di kamar Kim Sa kemarin. Sementara Jong Dae
dan Chanyeol bersiap, Sehun izin ke
kelasnya untuk mengambil pick gitar miliknya yang tertinggal. Setengah berlari Sehun
melewati kantin, dan laboratorium sebelum sampai dikelasnya. Ia sedikit curiga
dengan keadaan lab yang terbuka karena menurutnya hari ini tidak ada
pembelajaran. Entah karena dorongan apa Sehun memasuki laboratorium, selangkah
dua langkah ia menemui bayangan. Sehun mendekat dan setelah jelas siapa yang
berada dilaboratorium, Sehun sedikit terkejut. Ralat! Ia sangat terkejut.
***
Kim
Sa berlari setelah menerima SMS, entah darimana seseorang tersebut mendapatkan
nomornya, yang jelas Kim Sa terburu-buru, gelagapan dan sedikit menabrak
beberapa orang yang dilewatinya. Ia tak peduli, karena masalah yang ia hadapi
lebih penting.
Kau
akan menyesal mencintai Zhang Yixing. Temui aku di laboratorium sebelah kelas.
Cukup
lama berlari nafas Kim Sa tersengal-sengal, di ambang pintu laboratorium didapatinya
gitaris dari dreamer band , Sehun. Tampak tak senang dengan kehadirannya. Sehun
menjalankan kakinya dua langkah mendekati Kim Sa.
“Fikirkan
lagi siapa yang kau cintai.” Bisik Sehun sembari menepuk bahu Kim Sa dan
menghadapkan pandangannya didalam lab. Mengisyaratkan Kim Sa untuk memasuki lab
tersebut kemudian ia meninggalkan Kim Sa.
Kim
Sa bingung dengan kalimat Sehun, penasaran ia melangkahkan kakinya ke dalam
laboratorium, berusaha tak mengeluarkan suara dalam setiap langkahnya. Tak lama
kakinya tercekat tak dapat melangkah kala melihat namja yang nampak sedang
bercinta.
Tunggu!
Rambut pekat itu, apakah aku mengenalnya? Batin Kim Sa. Kim Sa semakin
mendekati keduanya yang nampak saling melumat mulut lawan mereka bergantian.
Bahkan wanita itu tampak tak berpijak kakinya dengan tangan namja yang
melingkar di tubuhnya yang S-line namja itu mengangkatnya pada meja dan namja
itu bahkan memposisikan tubuhnya diantara dua kaki wanita tersebut. Kim Sa
terdiam melihat keduanya. Bahkan ciuman mereka semakin panas. Yeoja itu
terdengar melenguh menyebabkan namja berambut pekat itu menurunkan ciumannya
menuju perpotongan leher dan menyesapnya cukup lama sehingga meninggalkan
bercak kemerahan. Kim Sa membulatkan matanya mengetahui namja didepannya.
Namja
itu, Z-Zhang Yixing batin Kim Sa dalam hati dengan menggigit bibir
bawahnya.
Kim
Sa tak membutuhkan penjelasan, bahkan Zhang Yixing tak menyadari keberadaannya
saat ini. Air matanya berlinang. Ia ingin sekali memukul Zhang Yixing sekuat
tenaganya, namun ia rasa ia tak mampu dengan melihat yeoja yang bersama Zhang
Yixing saat ini. Ia terlihat lebih sexy dan lebih cantik daripada Kim
Sa. Dengan gontai ia meninggalkan laboratorium dan memilih perpustakaan sebagai
tempat meluapkan segenap rasanya.
***
Sehun
melihat pemandangan yang sangat membuatnya tak sanggup untuk berjalan bahkan
untuk bernafas sekalipun. Seperginya dari
laboratorium ia tak berminat untuk mengambil pick gitar didalam kelasnya dan
tak berminat untuk kembali ke music wave yang akan berlangsung. Telepon disaku
celana kanannya yang berdering berulang kali pun tak ia hiraukan. Ia malah
memilih ke ruang musik yang dianggapnya sebagai rumah kedua.
Chanyeol
dan Jong Dae kalang kabut. Kebingungan
mencari Sehun yang semenjak berpamitan mengambil pick gitar namun tak
menampakkan hidungnya kembali. Keduanya memutuskan untuk tidak tampil jika Sehun
tidak ditemukan. Akhirnya penampilan Dreamer band digantikan oleh yang lain. Chanyeol beserta Jong Dae mengelilingi Giyonggi High
School. Sementara Jong Dae menuju lantai 2, Chanyeol mencoba mencari Sehun di dalam kelasnya. Di
lantai 2 Jong Dae menuju ruang musik, tempat yang gemar dikunjungi oleh Sehun.
Benar saja, lelaki yang sangat nampak kuat kali ini didapati Jong Dae sedang
menitihkan butiran air dipelupuk matanya. Tentunya dengan cara Sehun, tak
mengeluarkan suara, memainkan gitar dengan nada yang melow. Ia menyadari Jong
Dae yang memperhatikannya, namun berusaha tak melihatnya.
“Aku
sekarang tahu bagaimana perasaanmu Jong Dae-ah” ucap Sehun memecah keheningan
dengar memandang Jong Dae nanar.
Akhirnya
Sehun menceritakan segala kejadian beberapa saat yang lalu. Tak terkecuali
mengenai SMSnya kepada Kim Sa. Jong Dae hanya membulatkan matanya antara
kasihan kepada Sehun, juga sedikit kasihan kepada Kim Sa. Ya.. sedikit. Jong
Dae rasa ia mendapat kesempatan mendekati Kim Sa, namun ia telah terlalu sering
tersakiti dan saat ini bahkan ia mulai melupakan Kim Sa. Jong Dae benar-benar
ingin fokus dengan musiknya.
“Changkkaman,
lalu kenapa kau menangis? Bukankah Kim Sa yang lebih sakit? Siapa yeoja yang
bersama Zhang Yixing?”
Belum
sempat Sehun menjawab Smartphone Jong Dae berdering. Terdengar suara pria paruh
baya yang membuatnya kembali membulatkan mata.
“Mwo?”
“Fact”
Chanyeol
hendak menuju ruang musik setelah
mendapat pesan dari Jong Dae yang telah menemukan Sehun. Di luar kelas ia
mendapati Kim Sa keluar dari laboratorium. Hendak mendekat Chanyeol mengurungkan niatnya saat melihat Kim Sa
tertunduk dan terlihat sedikit terisak. Curiga Chanyeol membelokkan kakinya ke laboratorium. Tak jauh
dari pintu, ia melihat pemandangan yang jauh dari kata indah. Didapatinya Zhang
Yixing berciuman dengan Im Hanna, gadis yang ia idam-idamkan dari semester
awal.
“Apa
yang kalian lakukan?” ucap Chanyeol lantang sembari mengepalkan tangannya. Dibakar
amarah Chanyeol menghampiri Zhang Yixing
dan memukulnya habis-habisan tanpa ampun hingga meninggalkan bekas keunguan
pada pipi dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Im
Hanna yang melihat hanya membelalakkan matanya, dan berusaha memperbaiki 2
kancing teratas bajunya yang terlepas.
Zhang
Yixing tidak membalas, malah melihat Chanyeol dengan tatapan menghina. “Apa bandmu
benar-benar hancur saat ini? Wooah aku tak menyangka rencanaku sungguh
berhasil.” Ucap Zhang Yixing dengan mengusap bibir kirinya yang masih
mengeluarkan darah.
“Igo
mwoya?” tanya Chanyeol dengan mengangkat
kerah Zhang Yixing.
Zhang
Yixing kembali tersenyum tengik. “Heh... aku fikir aku benar-benar berhasil
mengobrak abrik otak Jong Dae dengan merebut wanitanya. Haha Sa Rang, wanita
yang membuat Jong Dae tersenyum tanpa henti.”
“Apa
maksudmu?”
“Eh,
apa kau berpura-pura tak tahu? Beberapa minggu yang lalu aku mendapati Jong Dae
diruang musik menceritakan tentang Sa Rang dan bertanya kepada Sehun bagaimana
cara untuk memikat wanita. Haha... kasihan sekali Jong Dae, tampak mengemis
namun nyatanya ia tak lebih memikat daripada aku. Kim Sa begitu murahan. Dan
apa kau fikir aku benar-benar mencintainya? Wanita dengan badan pas-pasan,
tanpa make up dan lihatlah! Aku bersama Im Hanna. Wanitaku.” Zhang Yixing
memperjelas, walau tak bisa dipungkiri dirinya juga menyukai sensasi bibir Kim
Sa.
“Jadi...”
“Ya..
aku hanya memanfaatkannya agar bandmu hancur dengan merusak konsentrasi main
vokal Jong Dae.”
“Dasar
kau!!!” Chanyeol kembali memukul Zhang
Yixing. “KAU TAK HANYA MENYAKITI JONG DAE. TAPI KAU JUGA MENYAKITIKU!!”
‘Brakkk’
Sebuah
kursi dihantamkan Im Hanna ke kepala Chanyeol karena ia tak tau bagaimana menyudahi aksi Chanyeol
yang semakin brutal. Panik karena darah mengucur dari kepala Chanyeol , Zhang
Yixing dan Im Hanna bergegas meninggalkan laboratorium.
***
“Mwo?”
Jong Dae terkaget mendengar suara pria paruh baya dari smartphonenya yang mengatakan
Chanyeol berada di ruang kesehatan.
Tanpa
aba-aba Jong Dae lantas meninggalkan Sehun. Nampak panik Sehun mengikuti Jong
Dae dibelakangnya.
“Jong
Dae-ah, kau mau kemana?” tanya Sehun.
“Ruang
kesehatan, Chanyeol ditemukan di lab
bersimbah darah dan tak sadarkan diri” sembari tetap berlari.
“Mwoo?”
Diruang
kesehatan Chanyeol nampak berbaring
lemah dengan infus di punggung tangan kanannya dan perban yang melilit
dikepala. Disamping ranjang, Jong Dae dan Sehun setia menemani Chanyeol di ruang kesehatan. Sembilan belas menit
berlalu Chanyeol terlihat mulai membuka
matanya. Berat dan pening kepalanya saat ini. Dengan mata sayup ia berusaha
memperjelas penglihatannya.
“Chi-ngu...”
ucap Chanyeol samar.
“Ne, Chanyeol
. Sehun Chanyeol sadar” ucap Jong Dae.
“Apakah
aku amnesia?”
“Aiisshh...
kalau kau amnesia tentu kau tak mengenalku bocah!” sahut Sehun dengan menepuk
kepala Chanyeol ringan.
“Awwww...
Sehun, aku benar-benar sakit. Setelah melihat Im Hanna berciuman dengan lelaki
busuk, Zhang Yixing. Aiishh apakah kurang Kim Sa baginya?”
“HEY!”
teriak Jong Dae. “Tunggu, jadi yang kau maksud tadi adalah Im Hanna Sehun-ah?”
“Ne...
jangan diteruskan, aku sudah muak dan hampir muntah mendengar nama-nama brandal
srigala itu” ucap Sehun ketus.
“Dan Chanyeol
. Kau juga mengetahui kejadian di laboratorium?”
Chanyeol
mengangguk dan menjelaskan kronologi
kejadian. “....aku benar-benar tak tahan. Dan lebih muak lagi yang memukulkan
kursi kearahku adalah Im Hanna, wanita S-Line yang berubah menyebalkan.”
“Lalu
menurutmu Kim Sa dimana?” Sehun tiba-tiba mencari Kim Sa.
Spontan
Chanyeol mengarahkan bola matanya ke
arah Jong Dae, begitu juga dengan Sehun. Jong Dae yang merasa ditunjuk berusaha
innocent dengan mengabaikan keduanya.
“Wae?
Aku sudah tak berhubungan lagi dengannya.”
“Aiisshh kau ini.” Sehun melihat jam
tangannya. “Omo, aku ada janji, cingu aku pergi dulu ne, Chan, cepatlah sembuh.
Gara-gara kau Dreamer tak jadi tampil, dan kau berhutang budi pada kami!” Sehun
melenggang tanpa berpamitan dan tak memberi tahu kemana ia akan pergi.
“HEY!
Bukankah kau yang menyebabkan dreamer tak jadi perform dengan tiba-tiba
menghilang huh? Dan kau Jong Dae! Gara-gara cintamu dengan Kim Sa band jadi
kacau” protes Chanyeol.
“Mianhae
Chanyeol sepertinya aku juga harus
meninggalkanmu sendiri” Jong Dae juga berpamitan.
“Wooy.!
Yakk aku belum sembuh Jong Dae-ah... jebal jangan pergi.”
Mengomel
tanpa henti tak membuahkan hasil untuk Chanyeol. Kini ia harus menerima
kenyataan berada di ruang kesehatan setidaknya hingga acara music wave hari itu
berakhir.
Membosankan
90 menit berada di ruang kesehatan, sangat berbeda dengan 90 menit kala bermain
bola. Chanyeol benar-benar benci ruang
sepi. Ia berusaha menghibur diri dengan sesekali memainkan gadget.
“Arrgghh..
MEMBOSANKAAAAN!” tak tahan lagi dengan suasana ruang kesehatan Chanyeol melepas paksa infusnya dan pergi dari tempat
yang menyiksa itu.
***
Setelah
keluar dari ruang kesehatan Chanyeol merasa perutnya mulai protes dan menginginkan
bahan bakar lagi. Hendak ke kantin ia tak sadar tak membawa foodcard, karena
sangat lapar Chanyeol segera menuju
ruang musik di lantai dua untuk mengambil foodcard dalam tasnya.
Melewati kelas 2-3, laboratorium dan kemudian tangga disamping loker menuju
lantai dua. Disana Chanyeol bertemu
dengan Kim Sa yang keluar dari perpustakaan. Tanpa menghiraukan Chanyeol segera melangkahkan kakinya memasuki ruang
musik.
Setelah
mengambil tas Chanyeol kembali menuju
kantin. Belum sempat ia melangkahkan kaki keluar dari ruang musik ia dikagetkan
Kim Sa.
“Aigo,
kau masih disini?”
“Ada
apa dengan kepalamu?”
“Bukan
apa-apa. Bisakah kau pergi, kau menghalangi jalan.” Ucap Chanyeol dingin.
“Ani,
apakah kau tau dimana Jong Dae? Aku sudah menghubunginya beberapa kali namun
tidak ada satupun yang ia angkat.”
“Heh,
kau sekarang membutuhkan Jong Dae? Setelah kau dalam keadaan bersedih karena
dicampakkan OPPA?” ucap Chanyeol dengan
menekankan kata Oppa. “Aisshh kasihan sekali Jong Dae, mencintai seseorang
namun bertepuk sebelah tangan. Jangan berharap teleponmu akan diangkat oleh
Jong Dae dan jangan hubungi ia lagi.”
“Mwo?
Apa maksudmu? Aku sama sekali tak tahu”
“Ampun,
kau benar benar singa berbulu domba Kim Sa. Ani bahkan bulumu lebih indah dari
domba, kau singa berbulu sutra!” Chanyeol nampak melolot kearah Kim Sa dan melompati
kakinya yang menghalangi jalan.
Kim
Sa yang masih penasaran dengan kata-kata Chanyeol mengikuti dan mencoba menahan lengan Chanyeol .
***
“Please Comeback To Me”
Perhealatan akbar music wave
telah satu bulan berlalu. Selama sebulan itu pula Kim Sa berubah 360 derajat.
Ia kini mulai mendapat teman. Dan selama itu pula Kim Sa mendapat julukan
sebagai permen karet Jong Dae.
Kim
Sa benar-benar tak tahu malu saat ini, bahkan setelah diusir beberapa kali oleh
Jong Dae, ia tak mempedulikannya. Duduknya pun sudah tidak bersama Jong Dae.
Jong Dae disebelah Sehun sedangkan dirinya duduk disamping Chanyeol.
Di
kantin Kim Sa memposisikan duduknya disamping Jong Dae. Namun Jong Dae tidak
lagi ramah, ia telah menjadi Jong dae yang lama bahkan ia meninggalkan
tempatnya sebelum sempat memakan menu siangnya.
Jong
Dae menuju atap bangunan sekolah, seperti satu bulan belakangan Ia diikuti
permen karetnya dibelakang.
“STOP!
Jangan mendekat!”
“Jong
Dae-ah... dengarkan aku sekali saja.” Ucap Kim Sa.
“Cukup
Kim Sa. Aku sudah tak menyukaimu.” Ya, Jong Dae sudah melupakan Sa Rang. Ia
lantas meninggalkan Kim Sa tanpa mendengarkan lebih lama.
Jong
Dae telah kembali, ia dapat menguasai panggung dengan baik. ia telah bisa
melantunkan lagu seperti saat Kim Sa belum datang. Bahkan ia juga mendapat
nilai yang memuaskan pada Ujian Tengah Semester. Dan seperti biasanya, Jong Dae
menghabiskan waktunya bersama Chanyeol dan Sehun di ruang musik. Hingga
disadarinya permen karet tak pernah bosan mengikutinya.
(Diruang
Musik)
“Kenapa
kau kesini?” tanya Jong Dae pada Kim Sa.
“Mianhae,
Jong Dae-ah.”
“Pergi,
aku tak ingin bertemu lebih lama denganmu.” saat ini Jong Dae berada pada posisi
Kim Sa yang dahulu. Bukankah kalimat ini pernah diutarakan Kim Sa saat mengusir
Jong Dae?.
Kim
Sa ditahan langkahnya oleh Jong Dae yang sebelumnya hendak memasuki ruang musik
tersebut. Karena tak sanggup melawan Jong Dae, Kim Sa menarik Jong Dae untuk
keluar dari ruang musik dan menariknya menuju ruang favorit Kim Sa. Ruang baca.
“Wae?
Aku tak akan berada didekatmu lebih lama, cepat kau ingin apa?”
CUP,
ciuman menyambar bibir Jong Dae tiba-tiba. Entah Kim Sa mendapat ilmu dari mana
kini ia menjadi wanita yang lebih berani.
“APA
YANG KAU LAKUKAN!! PERGI! AKU BUKAN LAGI APPAMU”
“Mianhae
Jong Dae-ah, aku memang salah. Kau boleh balas dendam kepadaku. Apapun yang kau
inginkan”
“Ciihh,
murahan sekali kau KIM SA. Aku tak memiliki waktu untuk hal seperti ini.” Jong
Dae benar-benar menanggalkan kesan ramah pada dirinya.
“Jangan
membohongi dirimu sendiri Jong Dae.”
-satu bulan yang lalu-
Kim
Sa menelfon Jong Dae puluhan kali. Ia tak tahu kemana lagi ia akan mengadu atas
masalahnya saat ini setelah melihat Zhang Yixing bersama wanita lain. Dari arah
berlawanan ia bertemu dengan Chanyeol yang akan memasuki ruang musik. merasa
tak dilihat Kim Sa menunggu di luar ruang musik.
“Aigo,
kau masih disini?”
“Ada
apa dengan kepalamu?” tanya Kim Sa basa basi setelah melihat perban yang
melilit di kepala Chanyeol, sebelum to the point.
“Bukan
apa-apa. Bisakah kau pergi, kau menghalangi jalan.” Ucap Chanyeol dingin.
“Ani,
apakah kau tau dimana Jong Dae? Aku sudah menghubunginya beberapa kali namun
tidak ada satupun yang ia angkat.”
“Eh,
kau sekarang membutuhkan Jong Dae? Setelah kau dalam keadaan bersedih setelah
dicampakkan OPPA?” ucap Chanyeol dengan
menekankan kata Oppa. “Aisshh kasihan sekali Jong Dae, mencintai seseorang
namun bertepuk sebelah tangan. Jangan berharap teleponmu akan diangkat oleh
Jong Dae dan jangan hubungi ia lagi.”
“Mwo?
Apa maksudmu? Aku sama sekali tak tahu”
“Ampun,
kau benar benar singa berbulu domba Kim Sa. Ani bahkan bulumu lebih indah dari
domba, kau singa berbulu sutra!” Chanyeol
nampak melolot kearah Kim Sa dan melompati kakinya yang menghalangi
jalan.
Kim
Sa yang masih penasaran dengan kata-kata Chanyeol mengikuti dan mencoba menahan lengan
Chanyeol.
“CUKUUP,
apa kurang jelas untukmu? Apa kau benar-benar tak tahu kalau Jong Dae
benar-benar mencintaimu? Aku benar-benar tak habis fikir, apa istimewanya
dirimu hingga membuat Jong Dae kehilangan fokusnya dengan band. Menurutmu
bentuk perhatiannya selama ini, mencoba mengajakmu pulang bersama, mengurusmu
saat sakit apakah bukan apa-apa? Aiisshh kau munafik sekali Kim Sa. Kau bahkan
hanya menganggapnya sebagai ayahmu.”
“Tunggu,
aku benar-benar tak tahu apa maksudmu Chanyeol .” Kim Sa mengikuti Chanyeol ke
kantin dan mencari kejelasan dari kalimat Chanyeol.
***
“Aku
sudah mengetahui semuanya dari Chanyeol . Aku menemuinya satu bulan yang lalu
saat dia keluar dari ruang kesehatan. Aku menyesal Jong Dae-ah, tak mengetahui
arti perhatianmu selama ini dan malah menganggapmu sebagai ayahku. Hehe bodoh
bukan? Dan aku juga benar-benar tak sadarkan diri saat kau yang menggendongku
dan merawatku saat aku sakit. Aku malah mencintai Zhang Yixing yang ternyata hanya
memanfaatkanku agar bandmu kacau saat music wave Jong Dae. Aku benar-benar
minta maaf Jong Dae. Bahkan aku telah kehilangan kendali saat memakan eskrim
dan saat di perpustakaan, saat itu aku selalu merasa berdebar dan kehilangan
kontrol. Mianhae Jong Dae, aku tak mengetahui perasaanmu lebih dulu. Jong Dae
apakah kau sudah tak mencintaiku lagi? Jong Dae, aku benar-benar menyesal, kembalilah
seperti dulu, selalu cerewet dan selalu ceria Jong Dae-ah. Jebal jawab aku Jong
Dae.”
“KENAPA
KAU SANGAT MURAH KIM SA?”
“Karena
kurasa aku mencintaimu Jong Dae, aku selalu berdebar saat bersama Zhang Yixing.
Namun perasaan itu berbeda saat aku bersamamu. Aku selalu tenang dan dapat
tidur dengan nyenyak dipelukanmu Jong Dae-ah. Aku rasa aku memang gila lebih
memilih Zhang Yixing dari pada dirimu.”
Jong
Dae tertegun mendengar kalimat Kim Sa. Ia tak dapat memungkiri perasaan sukanya
pada Kim Sa masih berbekas. Bahkan ia ingin bersikap dingin agar selalu diikuti
Kim Sa. Cukup lama Jong Dae tak berbicara.
“Apa
aku boleh meminta apapun?” tanya Jong Dae sedikit melunak.
Kim
Sa membelalakkan matanya. Kemudian Jong Dae mendekatkan wajahnya dan kini wajah
mereka terpaut hanya beberapa mili, dan hidung mereka pun telah bersentuhan.
“Aku
akan menghilangkan jejak Zhang Yixing” bisik Jong Dae ditelinga Kim Sa. Sudah
bisa ditebak oleh Kim Sa apa yang akan terjadi selanjutnya. Kim Jong Dae
mencium keningnya, kemudian turun pada
hidungnya dan berakhir pada bibirnya, melumat lembut bahkan lebih lembut dari Zhang
Yixing.
“Apa
kau tidak merasa berdetak saat ini?”
“Se-sedikit”
“Lalu
bagaimana dengan ini?” tanya Jong Dae dengan menurunkan ciumannya ketengkuk Kim
Sa dengan tangannya melingkar di pinggang Kim Sa. Oh Kim Sa benar tak tahan
dengan perilaku Jong Dae. Ia mulai melenguh dan membuat Jong Dae memcium
bibirnya kembali. Kim Sa benar benar merasa jantungnya berdetak lebih keras
saat ini, melebihi saat ia bersama Zhang Yixing, perlahan ia membalas ciuman
Jong Dae, memasukkan lidahnya dan memposisikan tangannya meremas rambut Jong
Dae. Jong Dae benar benar kehilangan kendali. Kini ia melumat kasar bibir Kim
Sa. Cukup lama sehingga membuat Kim Sa kesakitan.
“Cukup
Jong Dae-ah.”
Mendengar
perkataan Kim Sa, Jong Dae melepaskan ciumannya. Ditatapnya kedua mata Kim Sa
menitihkan air mata dan bibirnya sedikit berdarah dengan leher yang keunguan,
sungguh Jong Dae benar-benar menghilangkan tanda kepemilikan Zhang Yixing.
Tampak bersalah Jong Dae memeluk Kim Sa dan mengelus rambutnya.
“Mianhae...
Sa Rang. SARANGHAE”
*END*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar